© Attention :
“ Demi Kenyamanan Pengunjung kami rekomendasikan menggunakan
Browser ChromeTerima Kasih . . . . .”

TIPE KEPRIBADIAN MENURUT HIPOKRATES


Lebih dari 400 tahun sebelum Masehi Hippocrates, seorang tabib dan ahli filsafat yang sangat pandai dari Yunani, mengemukakan suatu teori kepribadian yang mengatakan bahwa pada dasarnya ada empat tipe temperamen. Sebenarnya, ada beberapa teori mengenai macam-macam kepribadian. Teori yang paling popular dan terus dikembangkan adalah teori Hipocrates-Galenus. Yang merupakan pengembangan dari teori Empedokretus. Berdasarkan pemikirannya, ia mengatakan bahwa keempat tipe temperamen dasar itu adalah akibat dari empat macam cairan tubuh yang sangat penting di dalam tubuh manusia :

1. Sifat kering terdapat dalam chole (empedu kuning)
 2. Sifat basah terdapat dalam melanchole (empedu hitam)
 3. Sifat dingin terdapat dalam phlegma (lendir)
 4. Sifat panas terdapat dalam sanguis (darah)

Kemudian teori Hippocrates di sempurnakan kembali oleh Galenus yang mengatakan bahwa keempat cairan tersebut ada dalam tubuh dalam proporsi tertentu, dimana jika salah satu cairan lebih dominan dari cairan yang lain, maka cairan tersebut dapat membentuk kepribadian seseorang.

Berpuluh tahun lamanya tipologi yunani yang bersifat filosofis ini berpengaruh luas sekali. Bahkan psikologi modern telah mengemukakan banyak saran baru mengenai penggolongan temperamen, tetapi tidak ada yang dapat menemukan penggolongan yang lebih bisa diterima seperti yang dikemukakan oleh Hippocrates dan Galenus. Untuk memperoleh gambaran mengenai berbagai sifat temperamen yang melekat dalam setiap cairan, berikut adalah gambaran dari penggolongan manusia berdasarkan keempat bentuk cairan tersebut. Sekarang kita bahas satu-satu tipe kepribadian tersebut :

BAHAYA MEDIA SOSIAL TERHADAP PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA



Semakin maraknya smartphone di Indonesia yang menyuguhkan berbagai medsos, semakin banyak pula tantangan   untuk memperbaiki karakter bangsa ini. Mengapa tidak?; dengan munculnya berbagai medsos belakangan ini justru semakin banyak memberikan kesempatan bagi kemerosotan moral dan karakter.

Seperti adanya aplikasi live broadcast yang mana memberikan kemudahan bagi kaum muda bahkan anak kecil yang dapat mengoperasikan smartphone mereka untuk berinteraksi dengan orang lain, sehingga mereka tanpa malunya memperlihatkan keelokan tubuhnya dan memberikan kesempatan untuk saling menggoda.

Setelah layanan SMULE sekarang muncul yang namanya Bigo live. Layanan live broadcasting BIGO Live baru saja hadir secara resmi di Indonesia. BIGO Live baru dirilis pada Maret 2016 lalu di beberapa negara, tetapi telah menjelma sebagai salah satu layanan yang paling banyak digunakan untuk live broadcasting. BIGO Live memungkinkan penggunanya untuk melakukan broadcasting dari mana saja. Hanya dengan instalasi app. BIGO Live, pengguna sudah bisa melakukan hal tersebut dari smartphone mereka.

Bagaimana Bangsa ini dapat memperbaiki moral dan karakter bangsa, jika gaya hidup seperti orang barat; bebas melakukan apa saja di depan khalayak umum. Tentunya ini bertentangan dengan karakter nenek moyang bangsa ini yang memiliki kesopanan dan santun yang tidak dimiliki bangsa lain.

Sangat ironis melihat kenyataan media sosial sekarang ini. ... L L Bagaimana upaya pemerintah Indonesia untuk menjaga karakter bangsa jika bangsa ini masih dijajah oleh karakter bangsa lain.

“Diberi pupuk sebaik apapun jika banyak tikus yang berkeliaran tumbuhan padi pun akan rusak”


STATISTIK INFERENSIAL



Berikut ini merupakan salah satu pembelajaran mengenai Statistik inferensial yang diampu oleh dosen kami, yakni Dr. Agus Rentnanto dari Stain, pada salah satu mata kuliahnya.

silahkan dipelajari dengan baik-baik...

METODOLOGI PENELITIAN



Berikut ini merupakan salah satu pembelajaran mengenai metodologi penelitian yang diampu oleh dosen kami, yakni Dr. Agus Rentnanto dari Stain, pada salah satu mata kuliahnya.

silahkan dipelajari dengan baik-baik...

INSTRUMEN, VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN



Sekilas mengenai penelitian, penelitian tidak lepas dari yang namanya instrumen, validitas, dan realibilitas. Instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel penelitian. Instrumen Penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur fenomena alam misalnya : Suhu diukur dengan termometer; panjang diukur dengan meteran, berat diukur dengan kilogram, dan sebagainya. Instrumen-instrumen tersebut mudah didapat dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur fenomena sosial umumnya dan bidang ekonomi dan bisnis khususnya yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Misalnya bentuk instrumen : 1) Checklist; 2) Pilihan Ganda; 3) Rating Scale; dan sebagainya
Bentuk instrumen yang dipilih antara lain tergantung pada metode pengumpulan data yang akan digunakan seperti : angket (kuesioner), observasi dan wawancara (interview).

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Jenis Validitas:
1.      Validitas Isi (Content Validity) : instrumen yang berbentuk test yang sering digunakan untuk mengukur prestasi belajar (achievement) dan mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan.
2.      Validitas Konstruk (Construct Validity) : Jika instrumen dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan sesuai dengan teori-teori yang relevan.
3.      Validitas yang berkaitan dengan kriteria (Criterion-related Validity) : Terjadi ketika sebuah instrumen membedakan individual pada kriteria yang akan diperkirakan.

TIPS MEMPERCANTIK WINDOWS (ICON WINDOWS)


Penampilan terkadang menjadi hal yang penting bagi kita, begitu pula tampilan komputer yang sering kita gunakan sehari-hari. Banyak cara merubah tampilan windows, ada yang menggunakan theme pack (merubah secara menyeluruh) atau merubah sebagian seperti icon folder maupun icon shortcut.

Icon merupakan tampilan windows yang tampak pada desktop dan explorer, dan menunjukkan sebuah folder atau shortcut pada windows. Karena itu icon dapat diubah sesuai dengan selera kita . dan merubahnya pun cukup mudah secara manual atau dengan bantuan aplikasi pihak ketiga.

Sebelumnya buatlah icon dahulu atau dapat memakai icon yang telah saya sediakan pada link berikut


 



Info PTK

Lembar Info PTK atau Lapor Tunjangan Dikdas (LTD) ialah fasilitas bagi guru/PTK yang disediakan oleh Direktorat P2TK Dikdas untuk membantu guru melakukan pengecekan hasil verifikasi data yang telah dikirim melalui aplikasi Dapodik.



Berikut ini ialah langkah-langkah cek data untuk melihat Lembar Info PTK tahun 2014
  1. Buka peramban dan ketik salah satu tautan aktif di bawah ini untuk menuju laman Lembar Info PTK
  1. Setelah salah satu lama info ptk di atas terbuka, maka untuk masuk ke dalam halaman verifikasi data guru/PTK caranya ialah sebagai berikut ini:


  • Masukkan NUPTK sebagai UserID
  • Masukkan tanggal lahir sebagai password dengan format penulisan YYYYMMDD di mana:
    i.YYYY= tahun lahir 4 digit
    ii.MM = bulan 2 digit
    iii.DD = tanggal lahir
    iv.Contoh:
    v.Tanggal lahir 10 januari 1968 maka cara menuliskannya ialah 19680110

  1. Langkah selanjutnya ialah masukkan kode captcha yang berada di bawah password dengan benar.
  2. Lakukan klik pada tombol “submit” kemudian silahkan tunggu laman verifikasi data termuat dengan sempurna
  3. Jika masih terdapat ketidaksesuaian data lembar info ptk dengan data asli maka lakukan pengecekan data di aplikasi dapodik, lakukan perbaikan data dan sync ulang/BSD.

source = http://gtk.kemdikbud.go.id/

EMOTIONAL INTELLIGENCE PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM

A.  Latar Belakang Masalah

Ada beberapa pokok masalah yang melatar belakangi penulisan skripsi ini. Masalah-masalah tersebut adalah sebagai berikut.
1.      Pandangan tentang kecerdasan
Sudah tidak dapat disangkal lagi bahwa kecerdasan merupakan suatu hal yang mutlak dimiliki dan diperlukan manusia untuk tetap bisa survive dalam hidup di dunia. Sebagai wujud dari kecerdasan itu adalah kemampuan manusia untuk menyelesaikan problem dengan benar dan dalam waktu yang relatif singkat ( Suharsono, 2000: 34). Walaupun kontribusi kecerdasan cukup besar dalam hidup manusia, tapi dari waktu ke waktu pandangan akan kecerdasan selalu mengalami perubahan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dan setidaknya secara garis besar ada tiga pandangan mengenai hal ini.
Pandangan yang pertama merupakan cara pandang yang sempit dan telah berkembang sejak akhir abad ke 19, yaitu ketika penelitian seputar kecerdasan sedang marak di kalangan pakar Psikologi. Pandangan ini bisa kita simak lewat definisi yang diberikan oleh Alfred Binet sebagai penemu Test Model Binet dan LM. Terman yang telah beberapa kali mengadakan revisi terhadap test tersebut. Binet mengatakan “Comprehension, invention, direction, and critism – intelligence is contained in these four words” (Crow and Crow, 1989: 175). Sedangkan Terman berpendapat bahwa kecerdasan adalah “the ability to think in terms of abstract ideas” (Crow and Crow, 1989: 175).
Yang menjadikan kecerdasan menjadi lebih sempit dalam pandangan ini adalah penelitian yang dilakukan Binet yang menghasilkan Test Model Binet yang dapat membedakan antara orang yang normal dengan yang tidak. Test yang kemudian direvisi oleh Terman  dan dapat menunjukkan IQ (Intelligence Quotient) lewat perbandingan tetap antara Mental Age (MA) dengan Cronological Age(CA) ini ternyata hanya menunjukkan sedikit dari kecerdasan yang dapat dimiliki manusia karena  test tersebut hanya mengajukan pertanyaan di seputar lingusitik dan matematik sehingga dua kemampuan ini saja yang dapat diukur. Dan ironisnya orang-orang sudah terlanjur mengidentikkan IQ dengan kecerdasan, dan kemampuan inilah yang banyak dikembangkan di sekolah-sekolah kita.
Pandangan yang kedua memandang kecerdasan lebih luas lagi karena kecerdasan menurut pandangan ini dapat dikembangkan tidak hanya dua jenis saja. Pandangan ini dipelopori oleh Howard Gardner yang mengadakan penelitian lewat Project Spectrum. Dalam penelitian ini Gardner mendapatkan bahwa otak manusia memungkinkan untuk memiliki sampai delapan jenis kecerdasan yang dinamakan Multiple Intelligence, yaitu sebagai berikut.
a.       Kecerdasan lingustik, yaitu kemampuan dalam hal membaca, menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata;
b.      Kecerdasan logika dan matematika, yaitu kemampuan untuk menalar dan berhitung;
c.       Kecerdasan musikal;
d.      Kecerdasan spasial dan visual;
e.       Kecerdasan kinestik atau kecerdasan fisik, kecerdasan ini dapat kita temui pada para atlet semacam Michael Jordan;
f.       Kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain;
g.      Kecerdasan intrapersonal, atau kecerdasan instrospektif, yaitu kemampuan untuk memiliki wawasan, mengetahui jati diri; jenis kecerdasan ini memungkinkan manusia untuk mengeluarkan informasi-informasi yang disimpan dalam pikiran bawah sadar;
h.      Kecerdasan naturalis, yaitu kemampuan untuk bekerja sama dan menyelaraskan diri dengan alam (Vas dan Dydren, 1999: 121-123).
Selanjutnya pandangan yang terakhir berpendapat bahwa ternyata emosi manusia pun bisa menjadi cerdas. Memang pendapat ini sedikit banyak memiliki kemiripan dengan Multiple Intelligenceterutama pada kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal karena dua kemampuan inilah yang menjadi titik tekan pandangan ini. Namun yang membedakannya adalah pandangan ini lebih mengeksplorasi wilayah emosi manusia, sedangkan kesemua Multiple Intelligence hanya berkutat pada kognitif atau rasio manusia.
Pandangan ini dipopulerkan oleh Daniel Goleman karena melihat fakta di tengah-tengah kehidupan manusia yang mempercayai bahwa IQ  adalah satu-satunya penuntun manusia menuju kesuksesan hidup. Namun realitas yang ada menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang ber-IQ tinggi seringkali bertindak bodoh yang berakibat membawanya pada kegagalan atau bahkan kehancuran dan menjauhkan dirinya sendiri dari kesuksesan yang seharusnya berada dalam genggamannya hanya dikarenakan dia tidak berhasil mengatur dan memanfaatkan emosinya. Di lain pihak kita juga mendapati orang-orang dengan IQ yang tidak begitu tinggi, mendapatkan  kesuksesan.
Dari sinilah kemudian ditarik kesimpualan bahwa manusia memerlukan suatu jenis kecerdasan yang baru, dan kecerdasan ini bernama Emotional Intelligence, selanjutnya disingkat EI, atau kecerdasan Kecerdasan Emosional.
2.      Pandangan pendidikan Islam tentang potensi manusia
Sebagai obyek dan sekaligus juga sebagai subyek pendidikan, khususnya pendidikan Islam, manusia dipandang sebagai makhluk yang unik dan istimewa yang menyimpan berjuta potensi dan misteri. Pandangan yang demikian itu tentu tidak lepas dari pandangan Islam sendiri akan manusia. Hal ini dikarenakan pendidikan Islam sebagai salah satu dari sekian banyak aspek Islam, juga menempatkan Al-Qur’an sebagai sumber nilai yang tertinggi.
Manusia di mata Islam memang unik sekaligus istimewa, dan letak keunikan dan keistimewaannya itu paling tidak bisa dilihat pada dua hal berikut ini.
a. Yang pertama adalah karena manusia diciptakan sebagai makhluk yang paling sempurna dan mulia. Informasi ini bisa kita temui dalam QS. 95:  Al-Tin: 5.

 

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. 95: Al-Tin: 5). *

Kesempurnaan dan kemuliaan tersebut salah satunya dapat kita simak dalam QS. 38: 71-72.



Artinya: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:   “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.
Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (ciptaan)Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya”.
Menurut Quraish Shihab (1999: 233) ayat ini memberikan informasi bahwa penciptaan manusia itu melibatkan dua unsur sekaligus, sehingga manusia itu terdiri dari kedua unsur ini. Unsur yang pertama adalah materi yaitu fisik manusia yang dalam ayat di atas disimbolkan dengan gumpalan tanah. Dan secara biologis, fisik manusia itu tidak ubahnya seperti hewan, karena dia tetap membutuhkan udara untuk bernapas, makanan dan minuman untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya,
 bereproduksi untuk mengembangkan keturunan, serta susunan organ tubuh yang tidak dapat diubah lagi (Sarlito Wirawan Sarwono, 1982: 27).
Selain itu, menurut teori Darwin, lepas dari pro dan kontra, manusia mempunyai hubungan kekerabatan yang cukup dekat dengan bangsa kera (William M. Haviland, 1999: 74). Namun lewat penelitian ilmiah juga didapatkan temuan-temuan  tentang perbedaan antara kedua spesies ini, sehingga tetap mengarah pada suatu kesimpulan bahwa bagaimanapun juga manusia adalah makhluk yang paling sempurna.
Perbedaan-perbedaan itu adalah sebagai berikut :
1)      Perbedaan dalam kapasitas tengkorak, dimana kera hanya mempunyai kapasitas antara 400 cc – 500 cc, sedangkan kapasitas rata-rata tengkorak manusia adalah 1.350 cc yang memungkinkannya untuk memiliki bagian-bagian otak yang kopleks (Maurice Bucaille, 1998: 128).
2)      Perbedaan yang menyangkut foramen magnum belakang tengkorak, dimana pada kera terletak pada bagian belakang tulang belakang kepala, dan pada manusia terletak pada bagian yang lebih ke depan, sehingga kepala manusia lebih seimbang (Bucaille, 1998: 129).
3)      Perbedaan bentuk telapak tangan. Tangan manusia mempunyai ibu jari yang tumbuh sempurna yang memungkinkan ibu jari dapat berhadap-hadapan dengan jari-jari yang lainnya, sedangkan ibu jari kera tidak dapat tumbuh dengan sempurna (Haviland, 1999: 71).
4)      Perbedaan pada bentuk tulang panggul, dimana tulang panggul manusia membuatnya dapat berjalan dengan tegak, sedangkan tulang panggul pada kera tidak memungkinkannya bisa berjalan tegak (Bucaille, 1998: 130).



BIMBINGAN KONSELING DAN PENDIDIKAN RELIGIUS

I.        Latar Belakang Masalah
Islam memandang bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting terutama dalam kaitannya untuk memahami, mengolah, memanfaatkan dan mensyukuri nikmat Allah. SWT. Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan cahaya bagi kehidupan manusia sehingga perilaku manusia dapat membedakan mana yang bathil dan mana yang tidak, mana yang haram dan mana yang halal. Sebab salah satu kondisi yang memungkinkan manusia menjadi takwa dan beriman adalah kemauan (manusia) berpikir yang bisa dicapai dan ditindaklanjuti dari pendidikan.
Tentang  visi pendidikan islam, Abdur Rahman sebagaimana dikutip oleh edy  Purwo Saputro memaparkan bahwa pendidikan harus menngandung komponen penting yaitu : ragawi (jasmaniah), akal (aqliyah), dan spiritual (ruhiyah), jika ketiga komponen  tersebut dapat mengkristal dalam diri peserta didik maka akan terbentuk pribadi yang utuh, baik dalam wujud interaksi dalam dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya.[1]
Pendidikan islam bertujuan untuk membantu peserta didik mencapai kemampuan fisik, mengembangkan intelegensia, menyajikan fakta-fakta yang releven dan memadai untuk meningkatkan semangat sikap moralitas islami-qur’ani. Semangat moralitas islami yang berqur’ani menandaskan bahwa intelektual muslim  pada dasarnya adalah penafsir dari kandungan  alqur’an sebagai wahyu yang paling lengkap bagi umat manusia sebagai bentuk  kitab suci yang tidak hanya kisah umat masa lalu, sekarang dan masa depan tapi juga membenarkan wahyu-wahyu terdahulu.
Manusia pada dasarnya memiliki naluri religius, yaitu naluri untuk berkepercayaan atau memiliki kecenderungan beriabadah kepada Tuhan. Dalam tinjauan yang lebih luas naluri itu tidak dimonopoli  oleh suatu kelompok tertentu. Naluri religius itu muncul berbarengan dengan hasrat manusia memperoleh kejelesan tentang hidup ini. Karena itu, setiap pribadi cenderung untuk mencari dan menemukan “pusat hidup”, oleh sebab itu manusia sering disebut “mahluk Pencari makna hidup”.
Menurut Dr. Nurcholis Madjid, sumber - sumber makna hidup pada intinya ada tiga. Pertama, nilai - nilai kreatif, sebagai contohnya seperti bekerja dan berkarya, baik secara individu atau melibatkan diri dalam harmoni sosial (bhakti sosial) misalnya, partisipasi ikut memberantas kebodohan dan keterbelakangan dan sebagainya; kedua, nilai - nilai penghayatan yakni meyakini kebenaran keimanan, serta nilai - nilai yang dianggap berharga. Misalnya dalam sholat kita tidak sekedar berdialog dengan Allah  melainkan bagaimana menghadirkan Allah dalam sholat, lebih - lebih Allah hadir dalam semua aktifitas kita; ketiga, nilai - nilai bersikap yakni menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan. Misalnya dalam hal ini Nurcholis mengambil contoh Nabi Ibrahim yang diperintah Allah SWT untuk menyembelih anaknya. Pada akhirnya Nabi Ibrahim menemukan penghayatan makna hidup sejati, bahwa anak bukan segala-galanya. Karena yang diharapkan hanyalah ridha Allah dan disertai dengan sikap tabah.[2]
Hidup manusia adalah bermakna dan makna terakhir hidup itu adalah kembali kepada kebenaran, jalan Ilahiyah. Hanya dengan jalan mengikuti petunjuk-Nya itulah tempat tujuan hidup kita.
Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya . kesadaran ini akan membimbing manusia ke arah jalan hidup yang benar  di dunia ini, khususnya dalam berhubungan dengan  manusia yang merupakan manifestasi dari dimensi keimanan dan ketakwaan personal dan kesalehan sosial.
Pembentukan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT menjadi tolok ukur pertama dan utama dalam pengelolaan pendidikan Islam. Sekolah merupakan tempat bagi anak didik untuk belajar bermasyarakat, agar dapat berfungsi dan mampu mengaktualkan diri sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya di bumi. Sekolah bertujuan membentuk manusia beriman, berilmu dan trampil serta bersemangat dalam beramal, sehingga tercipta masyarakat yang terhormat di dunia dan selamat di akhirat. Sekolah juga bertujuan membantu terbentuknya manusia yang kreatif dan bertanggung  jawab kepada Allah SWT.[3]
Nuansa pendidikan yang spiritualis tersebut menyadarkan kita  tentang pentingnya konsep At-Tarbiyyah Ar-Ruuhiyyah (pendidikan ruhani), untuk dirumuskan dan diimplementasikan dalam pendidikan Islam. Dengan pendidikan ruhani dharapkan muncul suatu kemampuan spiritual intelligence (kecerdasan spiritual) dalam diri peserta didik. Dengan kepemilikan spiritual intelligence yang memadai, maka peserta didik akan dapat mengendalikan dirinya dan mengembangkan segala peristiwa yang dialaminya kepada pemegang otoritas nilai tertinggi, yakni Allah SWT.
Sejalan dengan urgensi pendidikan Ruhani tersebut, Dr. Utsman Abdul Mu’is Ruslan, menemukan tiga alasan yang mendorong gerakan Islam Ikhwanul muslimin, menyelenggarakan pendidikan ruhani: pertama, menurut Ikhwanul Muslimin manusia memiliki dimensi spiritual, dan ruh (jiwa) itulah yang mencerminkan eksistensinya yang hakiki. Dengan ruh itu, ia layak disebut manusia; kedua, mereka meyakini bahwa umat ini tidak akan bangkit kembali tanpa kebangkitan spiritualnya. Menurut mereka, tidak ada yang bisa melawan gelombang materialisme yang memporakporandakan Mesir kala itu, selain pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyah) ; ketiga, mereka meyakini bahwa aspek - aspek keimanan  dan keislaman tidak akan hidup dalam diri seseorang, jika tidak ada hubungan spiritual yang mendalam antara dirinya dengan Allah swt.  [4]
Pendapat senada juga disampaikan oleh Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, bahwa pendidikan ruhani merupakan pilar utama dari pendidikan Islam, karena ruhani merupakan  tolak ukur kebaikan dan keburukan serta spirit manusia, jika ruhaniahnya baik maka semua dimensi yang lain (akal dan tubuh) akan baik. Lebih lanjut lagi beliau juga mengatakan bahwa pendidikan ruhani merupakan salah satu pilar kebangkitan umat Islam. Serta di tengah kegelisahan dalam meluruskan bentuk dan sistem pendidikan ia menjadi kebutuhan yang mendesak dan vital dalam kehidupan umat Islam saat ini.[5] 
Dengan perspektif - perspektif di atas, peneliti merasa terpanggil untuk mengkaji secara mendalam persoalan - persoalan yang berhubungan dengan pendidikan ruhani kaitannya dalam konseling Islam dalam bentuk skripsi yang berjudul “PENDIDIKAN RUHANI IMPLIKASINYA DALAM KONSELING PENDIDIKAN ISLAM”, semoga penelitian ini dapat memberi sumbangan berarti bagi kemaslahatan umat  Islam...
II.     Alasan Pemilihan Judul
Penelitian skripsi yang berjudul, “PENDIDIKAN RUHANI IMPLIKASINYA DALAM KONSELING PENDIDIKAN ISLAM”,  ide tersebut muncul didorong oleh pertimbangan dan alasan -alasan sebagai berikut:
1.       Pendidikan ruhani merupakan satu pilar penting dalam pendidikan Islam, apabila ruhaniahnya baik, maka seluruh dimensi yang lain (akal, tubuh) menjadi baik, sebaliknya bila ruhaniahnya jelek, maka seluruh dimensi yang ada dalam diri manusia akan ikut menjadi jelek.
2.       Penelitian tentang konsep pendidikan ruhani kaitannya dengan konseling pendidikan Islam mempunyai relevansi dengan pemecahan problematika umat Islam di era modern. Relevansi itu berkenaan dengan kondisi umat Islam yang terdera budaya barat dengan budayanya yang materialistic. Suatu sikap yang mengukur segala sesuatu secara materi. Dalam kaitan ini Islam mengajarkan bahwa pribadi seorang muslim ditentukan oleh derajat ketaqwaannya, bukan dilihat dari kepemilikan barang - barang yang bersifat material.
3.       Masih minimnya riset tentang konsep pendidikan ruhani kaitannya dengan konseling pendidikan Islam. Padahal pendidikan ruhani memilikki peran sentral dalam meningkatkan dan mengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia.
III.  Penegasan judul
Untuk menghindari kekacauan kajian dan pemahaman judul skripsi di atas,  maka penulis perlu menjelaskan  istilah - istilah kuncinya saja, sebagai berikut :
1.      Pendidikan ruhani
Pendidikan ruhani adalah suatu usaha untuk memperkuat hubungan antara ruhani[6] manusia dengan Alah swt melalui jalan menyembah dan merendahkan diri kepada-Nya serta taat dan tunduk kepada syari’at Islam,[7] untuk mencapai kesempurnaan Insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, dan kesempurnaan insan yang bermuara pada kebahagiaan di dunia dan akhirat.[8]


2.      Implikasi
Menurut WJS. Poerwadarminta, implikasi artinya  keterlibatan.[9]
3.      Konseling pendidikan Islam
Konseling pendidikan Islam  adalah proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali akan eksistensinya sebagai mahluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.[10]
Jadi tegasnya pendidikan ruhani implikasinya dalam konseling pendidikan Islam adalah menjelaskan implikasi pendidikan ruhani dalam proses konseling pendidikan Islam.
IV.             Rumusan masalah  
Focus masalah yang hendak peneliti kaji dalam skripsi “PENDIDIKAN RUHANI IMPLIKASINYA DALAM KONSELING PENDIDIKAN ISLAM” terformulasi dalam pertanyaan sebagai berikut :
1.      Apakah pendidikan ruhani itu ?
2.      Apakah konseling pendidikan pendidikan Islam itu ?
3.      Adakah implikasi pendidikan ruhani dalam konseling pendidikan Islam ?.
V.             Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.       Tujuan
Berdasarkan focus masalah di atas, maka penelitian skripsi ini bertujuan :
a)       Untuk mengetahui hal-ikhwal tentang pendidikan ruhani
b)      Untuk mengetahui hal-ikhwal tentang konseling pendidikan Islam
c)       Untuk mengetahui ada atau tidak adanya implikasi pendidikan ruhani dalam konseling pendidikan Islam
2.       Manfaat
Penelitian skripsi ini, diharapkan dapat memberi manfaat teoritis dan praktis bagi bangsa Indonesia :
a)       Maksud kegunaan teoritis, adalah bahwa usaha penelitian skipsi ini dilakukan  untuk mengkaji wacana pendidikan ruhani dari para tokoh dan pakar dalam bingkai ilmu pendidikan Islam.
b)      Maksud kegunaan praktis, adalah penelitian ini diharapkan bisa menjadi semacam jembatan kecil bagi antar generasi Islam (pendidik Islam) untuk melakukan proses dialog karya yang serta berdampak positif bagi peningkatan mutu out put pendidikan Islam.

ANALISIS PSIKOLOGIS METODE PENDIDIKAN SOPAN-SANTUN ANAK DALAM KELUARGA


A.    Latar Belakang Masalah
“Ajining diri songko lati ajining rogo songko busono”,  itulah pepatah orang Jawa  yang biasa diucapkan untuk menilai harga diri seseorang. Pepatah itu berarti bahwa harga diri seseorang dapat dilihat dari segi tingkah lakunya, baik perbuatan maupun ucapan kepada orang lain dalam situasi dan kondisi apapun. Dalam bahasa Arab tingkah laku tersebut disebut akhlak.[1] Apabila akhlak tersebut baik sesuai dengan keinginan masyarakat, orang tua dan tidak melanggar ajaran agama maka orang tersebut akan mendapatkan gelar sebagai orang yang berakhlak mulia, namun jika sebaliknya maka dinilai sebagai orang asusila. Dalam hal ini Nabi pun memberikan prioritas tersendiri bagi orang yang berakhlak mulia
عن أبي ثعلبة ألخشني قال قال رسول الله صلىالله عليه وسلم : إن أحبكم الي وأقربكم منى فى الأخرة محاسنكم أخلأقا. (رواه أحمد) [2]
Artinya : “Dari Abi Tsa’labah al-Khusyany berkata : Rasullallah SAW bersabda : sesungguhnya orang yang paling aku sukai diantara kamu dan paling dekat dengan aku di akhirat ialah siapa yang baik budi pekertinya”.(HR. Ahmad)
Sopan-santun merupakan dimensi akhlak antar sesama manusia. Secara sederhana sikap, perilaku sopan-santun adalah “perilaku yang menghargai orang lain dan tidak melanggar perasaan orang lain dalam suatu  masyarakat tertentu”.[3] Sopan-santun itu harus dijaga dan diamalkan bahkan tetap dilestarikan sebagai budaya masyarakat. Dr Sarlito Wirawan menegaskan bahwa “sopan-santun disusun oleh masyarakat agar kita semua yang hidup dalam masyarakat  dapat hidup berdampingan dengan aman, tentram tanpa ada satu orang yang menyinggung perasaan orang lain”.[4]
Mengingat urgennya sopan-santun dalam pergaulan, maka upaya membentuk dan melestarikan adalah dengan pendidikan. Tanggung jawab pendidikan ini dibebankan kepada tri pusat pendidikan yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Ketiganya harus dapat bekerjasama dengan baik agar pendidikan dapat dilaksanakan dan tercapai dengan baik.
Tanggung jawab pertama dalam pendidikan ini adalah keluarga. Perlunya pendidikan sopan-santun dalam keluarga ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad dengan sabdanya :
عن أنس بن ملك أنه سمع رسول الله صلىالله عليه وسلم قال: أكرموا أولادكم وأحسنوا أدبهم (رواه ابن ماجه)[5]
Artinya : “Dari Anas bin Malik, sesungguhnya Anas mendengar Rasulallah SAW bersabda: Muliakanlah anak-anakmu dan perbaikilah adab mereka. (HR. Ibn Majah)”.
Keluarga sebagai prioritas utama dan pertama karena keluarga merupakan tempat pertumbuhan anak yang pertama  dimana anak mendapatkan pengaruh dari anggota-anggotanya pada masa yang amat penting dan paling kritis dalam pendidikan, yaitu pada tahun-tahun pertama dalam kehidupannya )usia pra sekolah( sebab pada masa tersebut apa yang ditanamkan pada anak akan sangat membekas, sehingga tak mudah hilang atau berubah sesudahnya.[6]
Pengaruh keluarga begitu kental dalam pembentukan perilaku, kepribadian, termasuk diantaranya sikap sopan-santun anak. Oleh karena itu orang tua sebagai pendidik anak harus mampu memberikan teladan dan menanamkan kebiasaan sopan-santun yang baik kepada anak. Gambaran bagaimana sopan-santun yang baik, Islam  tidak hanya memberikan ilustrasi melalui teori-teori yang ada dalam al-Qur’an tetapi lebih dari itu Allah telah menunjuk Nabi Muhammad SAW sebagai figur panutan yang mesti ditiru oleh seluruh umat. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 21 :
لَقََدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ ِلمََََنْ كَانَ يَرْجُوْا اللهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَ وَذَكَرَاللهَ كَثيِْراً. (الأحزاب : 21)
Artinya : “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. al-Ahzab : 21) [7]
Keluarga sebagai pendidik sopan-santun anak harus mengetahui kondisi psikologi anak. Untuk memahami anak dan mengurus jasmaninya, kecerdasan kehidupan sosial serta perkembangan emosinya, bahwa orang tua perlu memiliki pengetahuan tentang tingkah laku sedemikian hingga mereka dapat menyesuaikan keputusan-keputusan mengenai anak-anak mereka dan dapat bertindak dalam cara yang ditata untuk mendorong perkembangan mereka.[8] Usia anak adalah usia meniru,[9] bagaimana anak bersikap, bagaimana cara bicara, dengan bahasa apa bicara, bahasa kasar atau bahasa halus yang dipakai, gerak-gerik tata cara dalam kegiatan  sehari-hari, cara makan, cara bertanya, cara masuk ruangan, cara dan sikap terhadap orang lain, terhadap orang yang lebih tua, sikap terhadap yang sebaya, lebih muda dan sebagainya, semuanya akan mengikuti pola yang dicontohkan oleh orang tuanya. Itulah salah satu yang harus dipahami oleh orang tua. Kondisi ini dapat digunakan oleh orang tua sebagai modal terbesar dalam pendidikan anak sebab apa yang dilihat dan didengar oleh anak dalam lingkungannya itulah yang akan ditirunya, dan  salah satu caranya adalah keteladan yang kontinu dan konsisten.
Apabila semua orang tua di dunia ini mengetahui dan melaksanakan hal tersebut maka tentramlah dunia ini, namun realitas kearah itu semakin lama semakin memudar. Sopan-santun anak kepada orang tua, keluarga, teman, masyarakat dan kebudayaan pada bangsa kita – Indonesia –  ini semakin menurun, misalnya budaya barat yang ditelan secara mentah-mentah – westernisasi – semakin merajalela, model baju yang semakin mini dengan menampakkan paha dan buah dada sering kali terlihat diberbagai media masa dan akibatnya tidak sedikit anak-anak, remaja bahkan orang tua menirunya. Krisis sopan-santun yang lebih parah lagi adalah tindak kriminal yang menyangkut kehidupan manusia, banyak anak yang berani bersikap kasar pada orang tua, mencuri, melacur atau bahkan membunuh. Apabila dicari kambing hitam dari krisis ini, selain masyarakat keluargalah yang patut dipertanyakan, bagaimana mereka mendidik, mengarahkan dan mengawasi perilaku anak-anaknya selama ini. Untuk itu bagaimana metode orang tua dalam mendidik sopan-santun anak akan sangat mempengaruhi perilaku sopan-santun anak selanjutnya, sehingga diharapkan dapat membantu mengurangi krisis moral bangsa ini.
B.     Penegasan Istilah
Formulasi judul “Analisis Psikologis Metode Pendidikan Sopan-Santun Anak dalam Keluarga” masih merupakan pengertian pengertian yang bersifat abstrak dan luas. Untuk itu perlu dijelaskan dalam definisi operasional agar dihindari bias pengertian dan perbedaan interpretasi yang merusak konsistensi topik. Oleh karena itu di sini penulis akan memberikan penegasan dan batasannya, sebagai berikut :
1.      Metode pendidikan sopan-santun.
Metode berasal dari kata method dalam bahasa Inggris yang berarti cara. Metode adalah “cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu”.[10]
Pendidikan adalah “bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama”.[11]
Sopan-santun secara terminologi berarti “budi pekerti yang baik, peradaban, tata krama, kesusilaan”.[12] Bila merujuk pada bahasa Arab sopan-santun berasal dari kata  أَدَباً  masdar dari kata أَدُبَ yang berarti “sopan berbudi bahasa baik”[13] Sedangkan secara terminologi sopan-santun menurut Dr. Sarlito Wirawan adalah “menghargai orang lain dan tidak melanggar perasaan orang lain dan masyarakat tertentu”.[14] Sedangkan batasan lain adalah adab yang berarti “berbicara dengan omongan yang tepat pada waktu yang tepat, yang berbuat pada waktu dan kondisi yang tepat dan tidak akan berbuat jika tidak tepat waktu dan keadaan”.[15] Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sopan-santun adalah suatu sikap bicara atau berbuat yang sesuai dengan situasi dan kondisi guna menghargai dan tidak melanggar perasaan orang lain dan masyarakat tertentu.
Jadi metode pendidikan sopan-santun adalah cara yang digunakan oleh pendidik untuk mendidik sikap bicara atau berbuat (tingkah laku) anak yang sesuai dengan situasi dan kondisi guna menghargai dan tidak melanggar perasaan orang lain dan masyarakat tertentu.
2.      Anak
Anak adalah “seorang individu diantara kelahiran dan masa pubertas, atau seorang individu diantara masa kanak-kanak (masa pertumbuhan, masa kecil) dan masa pubertas”.[16]
3.      Keluarga
Keluarga adalah merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia. Dan bentuk keluarga sendiri ada keluarga kecil yang terdiri dari bapak, ibu dan anak-anak yang dilahirkan, dan keluarga besar yaitu keluarga yang keanggotaannya selain bapak, ibu dan anak ada kerabat lain separti kakek, nenek, paman, bibi, ipar atau bahkan pembantu rumah tangga yang tinggal dalam satu rumah. Yang dimaksud keluarga dalam tulisan ini adalah keluarga besar (extended family).[17]
Berdasarkan penegasan istilah tersebut di atas dapat ditegaskan bahwa maksud dari judul di atas adalah mencari dan mengkaji lebih jelas metode pendidikan sopan-santun yang sesuai dengan psikologi anak dan dapat diterapkan dalam keluarga.