I.
Latar Belakang Masalah
Islam
memandang bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting terutama dalam
kaitannya untuk memahami, mengolah, memanfaatkan dan mensyukuri nikmat Allah.
SWT. Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan cahaya bagi kehidupan manusia
sehingga perilaku manusia dapat membedakan mana yang bathil dan mana yang
tidak, mana yang haram dan mana yang halal. Sebab salah satu kondisi yang
memungkinkan manusia menjadi takwa dan beriman adalah kemauan (manusia)
berpikir yang bisa dicapai dan ditindaklanjuti dari pendidikan.
Tentang visi pendidikan islam, Abdur Rahman
sebagaimana dikutip oleh edy Purwo
Saputro memaparkan bahwa pendidikan harus menngandung komponen penting yaitu :
ragawi (jasmaniah), akal (aqliyah), dan spiritual (ruhiyah), jika ketiga
komponen tersebut dapat mengkristal
dalam diri peserta didik maka akan terbentuk pribadi yang utuh, baik dalam
wujud interaksi dalam dirinya sendiri maupun dengan lingkungannya.
Pendidikan
islam bertujuan untuk membantu peserta didik mencapai kemampuan fisik,
mengembangkan intelegensia, menyajikan fakta-fakta yang releven dan memadai
untuk meningkatkan semangat sikap moralitas islami-qur’ani. Semangat moralitas
islami yang berqur’ani menandaskan bahwa intelektual muslim pada dasarnya adalah penafsir dari
kandungan alqur’an sebagai wahyu yang
paling lengkap bagi umat manusia sebagai bentuk
kitab suci yang tidak hanya kisah umat masa lalu, sekarang dan masa
depan tapi juga membenarkan wahyu-wahyu terdahulu.
Manusia
pada dasarnya memiliki naluri religius, yaitu naluri untuk berkepercayaan atau
memiliki kecenderungan beriabadah kepada Tuhan. Dalam tinjauan yang lebih luas
naluri itu tidak dimonopoli oleh suatu
kelompok tertentu. Naluri religius itu muncul berbarengan dengan hasrat manusia
memperoleh kejelesan tentang hidup ini. Karena itu, setiap pribadi cenderung
untuk mencari dan menemukan “pusat hidup”, oleh sebab itu manusia sering
disebut “mahluk Pencari makna hidup”.
Menurut
Dr. Nurcholis Madjid, sumber - sumber makna hidup pada intinya ada tiga.
Pertama, nilai - nilai kreatif, sebagai contohnya seperti bekerja dan berkarya,
baik secara individu atau melibatkan diri dalam harmoni sosial (bhakti sosial)
misalnya, partisipasi ikut memberantas kebodohan dan keterbelakangan dan
sebagainya; kedua, nilai - nilai penghayatan yakni meyakini kebenaran keimanan,
serta nilai - nilai yang dianggap berharga. Misalnya dalam sholat kita tidak
sekedar berdialog dengan Allah melainkan
bagaimana menghadirkan Allah dalam sholat, lebih - lebih Allah hadir dalam
semua aktifitas kita; ketiga, nilai - nilai bersikap yakni menerima dengan
tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan. Misalnya dalam hal
ini Nurcholis mengambil contoh Nabi Ibrahim yang diperintah Allah SWT untuk
menyembelih anaknya. Pada akhirnya Nabi Ibrahim menemukan penghayatan makna
hidup sejati, bahwa anak bukan segala-galanya. Karena yang diharapkan hanyalah
ridha Allah dan disertai dengan sikap tabah.
Hidup
manusia adalah bermakna dan makna terakhir hidup itu adalah kembali kepada
kebenaran, jalan Ilahiyah. Hanya dengan jalan mengikuti petunjuk-Nya itulah
tempat tujuan hidup kita.
Sesungguhnya
kita adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya . kesadaran ini akan
membimbing manusia ke arah jalan hidup yang benar di dunia ini, khususnya dalam berhubungan
dengan manusia yang merupakan
manifestasi dari dimensi keimanan dan ketakwaan personal dan kesalehan sosial.
Pembentukan
manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT menjadi tolok ukur pertama
dan utama dalam pengelolaan pendidikan Islam. Sekolah merupakan tempat bagi
anak didik untuk belajar bermasyarakat, agar dapat berfungsi dan mampu
mengaktualkan diri sebagai hamba Allah sekaligus khalifah-Nya di bumi. Sekolah
bertujuan membentuk manusia beriman, berilmu dan trampil serta bersemangat
dalam beramal, sehingga tercipta masyarakat yang terhormat di dunia dan selamat
di akhirat. Sekolah juga bertujuan membantu terbentuknya manusia yang kreatif
dan bertanggung jawab kepada Allah SWT.
Nuansa
pendidikan yang spiritualis tersebut menyadarkan kita tentang pentingnya konsep At-Tarbiyyah Ar-Ruuhiyyah (pendidikan
ruhani), untuk dirumuskan dan diimplementasikan dalam pendidikan Islam. Dengan
pendidikan ruhani dharapkan muncul suatu kemampuan spiritual intelligence (kecerdasan spiritual) dalam diri peserta
didik. Dengan kepemilikan spiritual
intelligence yang memadai, maka peserta didik akan dapat mengendalikan
dirinya dan mengembangkan segala peristiwa yang dialaminya kepada pemegang
otoritas nilai tertinggi, yakni Allah SWT.
Sejalan
dengan urgensi pendidikan Ruhani tersebut, Dr. Utsman Abdul Mu’is Ruslan,
menemukan tiga alasan yang mendorong gerakan Islam Ikhwanul muslimin,
menyelenggarakan pendidikan ruhani: pertama, menurut Ikhwanul Muslimin manusia
memiliki dimensi spiritual, dan ruh (jiwa) itulah yang mencerminkan
eksistensinya yang hakiki. Dengan ruh itu, ia layak disebut manusia; kedua,
mereka meyakini bahwa umat ini tidak akan bangkit kembali tanpa kebangkitan
spiritualnya. Menurut mereka, tidak ada yang bisa melawan gelombang
materialisme yang memporakporandakan Mesir kala itu, selain pendidikan ruhani
(tarbiyah ruhiyah) ; ketiga, mereka meyakini bahwa aspek - aspek keimanan dan keislaman tidak akan hidup dalam diri
seseorang, jika tidak ada hubungan spiritual yang mendalam antara dirinya
dengan Allah swt.
Pendapat senada juga disampaikan oleh Dr. Ali
Abdul Halim Mahmud, bahwa pendidikan ruhani merupakan pilar utama dari
pendidikan Islam, karena ruhani merupakan
tolak ukur kebaikan dan keburukan serta spirit manusia, jika ruhaniahnya
baik maka semua dimensi yang lain (akal dan tubuh) akan baik. Lebih lanjut lagi
beliau juga mengatakan bahwa pendidikan ruhani merupakan salah satu pilar
kebangkitan umat Islam. Serta di tengah kegelisahan dalam meluruskan bentuk dan
sistem pendidikan ia menjadi kebutuhan yang mendesak dan vital dalam kehidupan
umat Islam saat ini.
Dengan perspektif - perspektif di atas, peneliti
merasa terpanggil untuk mengkaji secara mendalam persoalan - persoalan yang
berhubungan dengan pendidikan ruhani kaitannya dalam konseling Islam dalam
bentuk skripsi yang berjudul “PENDIDIKAN
RUHANI IMPLIKASINYA DALAM KONSELING PENDIDIKAN ISLAM”, semoga penelitian
ini dapat memberi sumbangan berarti bagi kemaslahatan umat Islam...
II.
Alasan Pemilihan Judul
Penelitian
skripsi yang berjudul, “PENDIDIKAN RUHANI IMPLIKASINYA DALAM KONSELING
PENDIDIKAN ISLAM”, ide tersebut
muncul didorong oleh pertimbangan dan alasan -alasan sebagai berikut:
1.
Pendidikan ruhani merupakan
satu pilar penting dalam pendidikan Islam, apabila ruhaniahnya baik, maka
seluruh dimensi yang lain (akal, tubuh) menjadi baik, sebaliknya bila
ruhaniahnya jelek, maka seluruh dimensi yang ada dalam diri manusia akan ikut
menjadi jelek.
2.
Penelitian tentang konsep
pendidikan ruhani kaitannya dengan konseling pendidikan Islam mempunyai
relevansi dengan pemecahan problematika umat Islam di era modern. Relevansi itu
berkenaan dengan kondisi umat Islam yang terdera budaya barat dengan budayanya
yang materialistic. Suatu sikap yang mengukur segala sesuatu secara
materi. Dalam kaitan ini Islam mengajarkan bahwa pribadi seorang muslim
ditentukan oleh derajat ketaqwaannya, bukan dilihat dari kepemilikan barang -
barang yang bersifat material.
3.
Masih minimnya riset
tentang konsep pendidikan ruhani kaitannya dengan konseling pendidikan Islam.
Padahal pendidikan ruhani memilikki peran sentral dalam meningkatkan dan
mengembangan seluruh potensi yang dimiliki oleh manusia.
III. Penegasan judul
Untuk menghindari kekacauan kajian dan pemahaman
judul skripsi di atas, maka penulis
perlu menjelaskan istilah - istilah
kuncinya saja, sebagai berikut :
1. Pendidikan ruhani
Pendidikan ruhani adalah suatu usaha untuk
memperkuat hubungan antara ruhani
manusia dengan Alah swt melalui jalan menyembah dan merendahkan diri kepada-Nya
serta taat dan tunduk kepada syari’at Islam,
untuk mencapai kesempurnaan Insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada
Allah, dan kesempurnaan insan yang bermuara pada kebahagiaan di dunia dan
akhirat.
2. Implikasi
Menurut WJS. Poerwadarminta, implikasi
artinya keterlibatan.
3. Konseling pendidikan Islam
Konseling pendidikan Islam adalah proses pemberian bantuan terhadap
individu agar menyadari kembali akan eksistensinya sebagai mahluk Allah yang
seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat
mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Jadi tegasnya pendidikan ruhani implikasinya
dalam konseling pendidikan Islam adalah menjelaskan implikasi pendidikan ruhani
dalam proses konseling pendidikan Islam.
IV.
Rumusan masalah
Focus masalah
yang hendak peneliti kaji dalam skripsi “PENDIDIKAN RUHANI IMPLIKASINYA DALAM
KONSELING PENDIDIKAN ISLAM” terformulasi dalam pertanyaan sebagai berikut :
1.
Apakah pendidikan ruhani
itu ?
2.
Apakah konseling pendidikan
pendidikan Islam itu ?
3.
Adakah implikasi pendidikan
ruhani dalam konseling pendidikan Islam ?.
V.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan
Berdasarkan
focus masalah di atas, maka penelitian skripsi ini bertujuan :
a)
Untuk mengetahui hal-ikhwal
tentang pendidikan ruhani
b)
Untuk mengetahui hal-ikhwal
tentang konseling pendidikan Islam
c)
Untuk mengetahui ada atau
tidak adanya implikasi pendidikan ruhani dalam konseling pendidikan Islam
2.
Manfaat
Penelitian skripsi ini,
diharapkan dapat memberi manfaat teoritis dan praktis bagi bangsa Indonesia :
a) Maksud kegunaan teoritis,
adalah bahwa usaha penelitian skipsi ini dilakukan untuk mengkaji wacana pendidikan ruhani dari
para tokoh dan pakar dalam bingkai ilmu pendidikan Islam.
b)
Maksud kegunaan praktis, adalah penelitian ini diharapkan bisa menjadi
semacam jembatan kecil bagi antar generasi Islam (pendidik Islam) untuk
melakukan proses dialog karya yang serta berdampak positif bagi peningkatan
mutu out put pendidikan Islam.