© Attention :
“ Demi Kenyamanan Pengunjung kami rekomendasikan menggunakan
Browser ChromeTerima Kasih . . . . .”

IMPLEMENTASI TEORI TREFFINGER TENTANG PENGEMBANGAN BELAJAR KREATIF DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI KELAS PENGARUHNYA TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA MTs NU KHOIRIYAH BAE KUDUS TAHUN AJARAN 2005 / 2006


A.    Latar Belakang Masalah

Mengajar merupakan sebuah profesi yang memerlukan dan mencakup pengembangan kreativitas. Para guru mempunyai peran kritis dalam membentuk visi  pendidikan yang bisa menghasilkan peserta didik yang benar-benar berhasil dalam pendidikan. Dalam proses pembelajaran diperlukan adanya strategi yang bisa mengembangkan kreativitas anak sehingga minat belajarnya bisa meningkat dan terarah.
Perkembangan kreativitas anak merupakan sebuah bagian penting dari apa yang pendidik dan sistem pembelajaran lakukan. Claxton (1984 : 228) berkata      “ Untuk menjadi kreatif engkau harus berani berbeda “, apa yang jelas dari hal ini adalah bahwa perkembangan keahlian kreatif dengan berani berbeda, harus berlangsung pada tingkat ganda, baik dalam sisi kebijakan (guru maupun pemerintah) maupun sisi praktis.[1]
Untuk mengukur ranah kognitif para guru tidak banyak menjumpai kendala. Aspek pengetahuan (rasio) diukur dengan berbagai tes baik ulangan harian, ulangan blok maupun tes akhir semester. Ranah psikomotor (kemampuan) dapat diketahui dari praktek pembelajaran bagi mata pelajaran yang memerlukan praktek seperti olah raga, kesenian, agama. Guru dapat mengukur ketrampilan siswa secara cermat melalui pengamatan dan hasil kerja dalam proses pembelajaran.
Sedangkan untuk mengukur ranah afektif (sikap) kenyataannya guru banyak menemui kendala dalam praktek pembelajaran di kelas. Ranah ini mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Pophan (1995) menjelaskan ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang.[2] Orang yang tidak mempunyai minat pada pelajaran tertentu sulit yang mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Oleh karena itu seorang guru harus mampu mengembangkan kreativitas anak untuk membangkitkan minat belajar siswa. Contoh siswa memiliki minat belajar dan sikap positif pada pelajaran, mereka akan merasa senang dan enjoy dalam mempelajari mata pelajaran.
Kreativitas merupakan salah satu kemampuan yang hendak ditingkatkan dalam kebanyakan program pembelajaran pada anak. Untuk itu perlu ditumbuhkan iklim di dalam kelas yang menghargai dan memupuk kreativitas dalam semua segi. Tidak cukup menyediakan waktu 30 menit sehari untuk kreativitas. Hal ini tidak akan meningkatkan kemampuan kreatif siswa. Mengembangkan kemampuan ini. Model Treffinger untuk mengembangkan belajar kreatif merupakan salah satu model yang menangani masalah kreativitas. Dengan melibatkan, baik ketrampilan kognitif maupun afektif. Treffinger menunjukkan saling hubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mengembangkan dan mendorong belajar kreatif.
Model Treffinger untuk mengembangkan dan mendorong belajar kreatif (Treffinger, 1986) menggambarkan susunan tugas tingkat yang mulai dengan unsur – unsur dasar dan menanjak ke fungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Model Treffinger terdiri dari langkah-langkah berikut : Basic tools, practise with procese, dan working with real problem.[3] Tingkat I, meliputi keterampilan berpikir divergen. (Guilford, 1967, dikutip Parke 1989) dan teknik-teknik kreatif. Keterampilan dan teknik-teknik ini mengembangkan kelancaran dan keteraturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pemikiran kreatif kepada orang lain. Timgkat II, memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. Tingkat III, memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan keterampilan yang dipelajari pada dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata.
Dalam teori Treffinger baik proses kognitif maupun afektif dikembangkan, dengan rentangan dalam tingkat kompleksitas. Siswa yang lebih cepat menguasai keterampilan tingkat I atau tingkat II dapat melanjutkan ke kegiatan III.[4] Menerapkan apa yang telah mereka ketahui terhadap masalah atau keadaan baru yang berbeda dalam hidup mereka. Dengan demikian siswa belajar keterampilan yang beragam dan mampu menggunakannya jika diperlukan. Belajar kreatif merupakan bagian dari semua subyek yang diajarkan di sekolah. Kemajuan dalam profesi diperoleh melalui proses kreatif.
Salah satu implikasi dari minat belajar siswa adalah membaca. Misalnya siswa yang gemar akan membaca, dia akan berusaha kreatif dan lebih meluangkan waktu untuk membaca dan mempelajari mata pelajaran. Akan tetapi itu semua tidak terlepas dari peran seorang guru sebagai pengontrol dan motivator. Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Alaq ayat 1-5 yang berbunyi :
اقرأباسم ربك الذي خلق * خلق الانسان من علق * اقراءوربك الاكرم * الذي علم بالقلم * علم الا نسان مالم يعلم (العلق :- ١ ٥)
Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan * Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah * bacalah dan Tuhanmulah yang paling pemurah * yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam * Dia megajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.[5]
Dari ayat di atas menunjukkan bahwa betapa pentingnya membaca dan menulis. Kata “Iqra” bersambung dengan “ bismirabbikalladzii khalaq” (bacalah dengan menyebut nama Tuhan yang menciptakan). Hal ini memberikan petunjuk bahwa membaca atau belajar sebagai salah satu aktiviats ilmu pengetahuan yang perlu dikembangkan. Yang dasarnya sebagai kreativitas dari anak itu sendiri. Dalam pembelajaran di kelas, kreativitas dari anak harus mampu membuat keterikatan atas diri mereka sendiri sehingga minat belajarnya bisa lebih meningkatkan dan mendapatkan kombinasi-kombinasi baru.

B.     Penegasan Istilah

Agar tidak terjadi kesalahpahaman judul yang penulis ajukan, maka penulis merasa perlu menegaskan judul yang penulis ajukan.
1.      Implementasi
Diartikan sebagai pelaksanaan, penerapan.[6] Yang dimaksud disini adalah penerapan atau pelaksanaan teori Treffinger dimana dalam proses pembelajaran, teori tersebut dilaksanakan oleh guru dan murid untuk meningkatkan minat belajar siswa.
2.      Teori Treffinger
Teori Treffinger dalam upaya pengembangan belajar kreatif merupakan salah satu dari model yang menangani masalah kreativitas secara langsung dan memberikan saran-saran praktis bagaimana mencapai keterpaduan. Dengan melibatkan baik ketrampilan kognitif maupun afektif pada setiap tingkat dari model ini. Treffinger menunjukkan saling berhubungan dan ketergantungan antara keduanya dalam mengembangkan belajar kreatif.[7]
Model Treffinger dalam mengembangkan dan mendorong belajar kreatif (Treffinger,1986) menggambarkan susunan tiga tingkat yang mulai dengan unsur-unsur dasar dan menanjak kefungsi-fungsi berpikir kreatif yang lebih majemuk. Model Treffinger terdiri dari langkah –langkah berikut : basic tools, practise with prosese, dan working with real problem.[8]
Tingkat I meliputi ketrampilan berpikir divergen (Guilford, 1967 dikutip Parke 1989) dan teknik-teknik kreatif. Ketrampilan dan teknik-teknik ini mengembangkan kelancaran dan keteraturan berpikir serta kesediaan mengungkapkan pemikiran kreatif. Kepada orang lain. Tingkat II, memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada tingkat I dalam situasi praktis. Tingkat III, memberi kesempatan kepada siswa untuk menerapkan ketrampilan yang dipelajari pada dua tingkat pertama terhadap tantangan dunia nyata.[9]
3.      Pengembangan
Dari kata kembang yang berarti, mekar, terbentang menjadi bertambah sempurna atau maju.[10]
4.      Belajar
Menurut S Nasution dalam bukunya yang berjudul “ Didaktik Asas - Asas Mengajar”, kata belajar diartikan sebagai perubahan berkat pengalaman dan latihan.[11]
5.      Kreatif
Kemampuan untuk mencipta, menjadi maju [12]
6.      Proses
Adalah tahapan – tahapan dalam suatu peristiwa pembentukan dan sebagainya, jalannya (Widodo, 2001).[13]
7.      Pembelajaran
Yaitu keseluruhan rangkaian aktivitas dalam belajar mengajar (Roychanah, 1997).[14]
8.      Pengaruh
Daya yang timbul dari sesuatu orang, benda, dan sebagainya yang berkuasa, kekuatan ghoib, dan sebagainya.[15]
9.      Minat Belajar
Minat adalah “ kecenderungan jiwa kearah sesuatu, karena sesuatu itu mempunyai arti bagi kita “, [16] jadi yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah kecenderungan jiwa untuk melakukan aktivitas belajar
10.  Siswa
Kata siswa diartikan sebagai “ pelajar”,[17] dan yang dimaksud siswa disini adalah siswa yang belajar di MTs NU Khoiriyah Bae Kudus tahun ajaran 2005/2006 yang menjadi sampel penelitian.

C.    Rumusan Masalah

Dengan mengacu pada latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskabn beberapa masalah, yang diajukan dalam penelitian adalah :
1.      Bagaimana guru mengimplementasikan teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas ?
2.      Bagaimana minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah  Bae Kudus tahun ajaran 2005 / 2006 ?
3.      Apakah ada pengaruh teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas terhadap minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus tahun ajaran 2005 / 2006 ?

D.    Rumusan Hipotesa

Sebagai pedoman penelitian, maka diajukan hipotesis yang merupakan arah dalam menentukan metode, jenis penelitian, metode pengumpulan data, metode pengolahan data, metode analisis data dan pengambilan kesimpulan. Hipotesis itu sendiri adalah jawaban-jawaban yang teraktif terhadap tujuan-tujuan studi, [18]  atau jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang sebenarnya masih harus diuji secara empiris.[19] Jadi hipotesa merupakan pernyataan yang bersifat sementara, [20] terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul.[21]
Adapun hipotesis yang diajukan adalah “ Ada hubungan yang cukup signifikan antara implementasi teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas dengan minat belajar siswa, dengan kata lain dengan adanya teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dikelas maka dapat menumbuhkan dan mendorong minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus tahun ajaran 2005 / 2006.

E.     Tujuan Penelitian

Dengan penelitian ini peneliti bertujuan untuk mengetahui :
1.      Bagaimana guru mengimplementasikan teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas pada siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus tahun ajaran 2005 / 2006
2.      Bagaimana minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus tahun ajaran 2005 / 2006
3.      Sejauhmana pengaruh implementasi teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas terhadap minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus tahun ajaran 2005 / 2006

F.     Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1.      Manfaat Teoritis
Dapat memberikan sumbangan pemikiran dan arah kepada guru mengenai pengembangan belajar kreatif oleh Treffinger dalam proses pembelajaran di kelas sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus
2.      Manfaat Praktis
a.       Bagi peneliti bermanfaat mengetahui teori Treffinger tentang bagaimana mengembangkan dan mendorong untuk belajar kreatif
b.      Bagi guru dapat mengetahui dan menerapkan teori Treffinger dalam proses pembelajaran di kelas. Untuk menumbuhkan minat belajar siswa
c.       Bagi siswa dapat digunakan sebagai motivasi untuk dapat lebih meningkatkan minat dalam belajar

G.    Metode Penelitian

Untuk mengadakan suatu penelitian yang valid dan reliable, metode sangatlah penting dalam membantu memecahkan masalah yang sedang diteliti, karena metode adalah suatu cara yang harus dilakukan dalam menentukan populasi, pengumpulan data, pengolahan data, dan analisis data sehingga dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan.
1.      Menentukan Subyek Penelitian
a.       Populasi
Populasi adalah jumlah keseluruhan subjek penelitian yakni seluruh anak yang dimaksud untuk diselidiki.[22] Penulis jadikan populasi adalah seluruh siswa keals VII-VIII MTs NU Khoiriyah Bae Kudus
b.      Sampel
Sampel adalah sebagian individu yang diselidiki.[23] Hal ini juga sejalan dengan pendapat Suharsimi Arikunto yang menerangkan bahwa sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.[24] Mengenai besarnya sampel, menurut Suharsimi Arikunto dalam mengambil sampel apabila jumlah subyek penelitian kurang dari 100 (seratus) maka lebih baik diambil semua, sehingga penelitian merupakan penelitian populasi, tetapi jika subyek lebih dari 100 (seratus) maka dapat diambil sampel antara 10 % - 15 % atau 20 % - 25 % bahkan lebih.[25]
2.      Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu yang akan menjadi objek penelitian. Dalam penelitian, menentukan variabel adalah sangat penting sebab dengan menentukan variabel tersebut masalah yang akan dikaji manjadi lebih jelas. Dalam kerangka penjabaran masalah-masalah penulisan menggunakan variabel sebagai berikut :
a.       Variabel bebas atau variabel X
Yaitu implementasi teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas, dengan indikator :
1.      Langkah Basic Tools
2.      Langkah Practise With Procese
3.      Langkah Working With Real Problem. [26]
b.      Variabel terikat atau variabel Y
Yaitu minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus dengan indikator :
1.      Suka membaca
2.      Memperhatikan dan mersepon proses pembelajaran di kelas
3.      Memahami materi pelajaran
4.      Sering bertanya.[27]
3.      Metode Pengumpulan Data
Metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah :
a.       Metode Interview
Menurut Koentjaraningrat : “ Wawancara atau interview mencakup cara yang duigunakan oleh seseorang untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden dengan bercakap-cakap berhadapan muka dengan orang itu”.[28]
Penggunaan metode interview ini dilakukan kepada berbagai pihak yang dipilih sebagai sumber data.
b.      Metode Observasi
Metode observasi yaitu metode pengamatan atau pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang diselidiki.[29] Atau cara-cara menganalisis mengenai tingkah laku atau mengawasi individu atau kelompok secara langsung.[30]
c.       Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkip, surat kabar, majalah, buku, notulen rapat, agenda, dan lain sebagainya.[31]
d.      Metode Angket
Dalam penelitian ini, angket yang berisi sejumlah daftar pertanyaan yang diberikan kepada subyek atau individu dan harus dijawab oleh responden yang menjadi sasaran penelitian. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas, dan minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus.
e.       Metode Eksperimen
Metode eksperimen adalah metode percobaan. Dasar dan suatu eksperimen adalah perbandingan antara suatu kelompok atau kesatuan eksperimen dengan suatu kelompok atau kesatuan kontrol. Kedua kelompok itu harus mempunyai sifat-sifat yang sama dan perbedaannya terletak pada stimulus berupa faktor yang pengaruhnya ingin diteliti. Stimulus ini diberikan kelompok eksperimen, tetapi tidak pada kelompok kontrol.[32]
Adapun langkah-langkah yang penulis lakukan dalam eksperimen ini adalah sebagai berikut :
1.      Memilih Kelas
Dalam hal ini penulis memilih kelas VII MTs NU Khoiriyah Bae Kudus yang terbagi menjadi empat kelompok, yaitu kelas a, b, c,     dan d.
2.      Menetapkan siswa eksperimen dan siswa kontrol, dalam hal ini penulis mengambil kelompok yang ada, maksudnya adalah seluruh anggota dan kelas kontrol maupun kelas eksperimen diambil sebagai sampel
3.      Bahan yang diberikan
Dalam eksperimen ini antara kelas a, b, c, dan d, diberikan bahan yang sama dan diampu guru yang sama
4.      Pelaksanaan eksperimen
Dalam hal ini, mengajar hanya disampaikan oleh satu guru sesuai dengan judul ini dan hanya diberikan pada kelas eksperimen. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah stimulus eksperimen dapat berjalan efektif.
4.      Metode Analisis Instrumen
1)      Uji Normalitas
Untuk menguji normalitas data dalam sampel adalah distribusi normal atau teknik perhitungan dengan menggunakan metode uji Chi Kuadrat. Rumus uji Chi Kuadrat sebagai berikut :


Keterangan :
Oi = Frekuensi pengamatan
Ei   = Frekuensi yang diharapkan
Jika x2 data Sx2 tabel dengan taraf signifikan 5 % berarti sampel penelitian berasal dari populasi yang normal.
2)      Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen
-          Uji Validitas Instrumen
Perlu dibedakan antara hasil penelitian yang valid dan reliabel dengan instrumen yang valid dan reliabel hasil penelitian yang valid, bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Sedang instrumen yang valid alat ukur digunakan untuk mendapat data (mengukur) itu valid.[33]
Pada dasarnya terdapat dua macam instrumen yaitu instrumen yang berbentuk tes maupun non tes, instrumen yang valid harus mempuyai validitas internal dan eksternal. Validitas internal instrumen yang berupa tes harus melalui :
1.      Pengujian validitas konstan ( Construct Validity)
2.      Pengujian validitas isi ( Content Validitas)
3.      Pengujian validitas eksternal
-          Uji Reliabilitas Instrumen
Instrumen reliabel berarti instrumen yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur obyek yang sama, akan menghasilkan data yang sama.[34] Pengujian reliabilitas instrumen dilakukan :
1.      Test – retest
2.      Equivalent
3.      Penggabungan keduanya
4.      Internal consistency
Dengan rumus Spearman Brown

Keterangan :
ri    : Reliabilitas internal seluruh instrumen
rb   : Korelasi product moment antara belahan pertama dan kedua
3)      Uji Homogenitas Data
Jika pengujian terhadap penyebaran nilai yang dianalisa penulisan akan menggeneralisasikan hasil terlebih dahulu yakin bahwa kelompok-kelompok yang membentuk sampel yang besaral dari populasi yang sama. Langkah – langkah dapat ditempuh sebagai berikut :
1.      Membuat tabel penolong untuk mencari harga-harga yang perlu untuk uji variabel
2.      Harga – harga yang perlu dicari adalah :
a.       Varian gabungan dan semua sampel :

b.      Harga satuan B dengan rumus :
B = (Log S2Σ ( ni – 1)
c.       Chi Square (x2) = In 10 = 2,3026 merupakan bilangan asli tetap yang disebut logaritma asli dan bilangan 10
d.      Menghitung harga Chi Square dengan rumus :
Y2 = (In 10) 

4)      Uji Linieritas Varians
Uji linieritas yakni pengujian data dalam analisis statistik inferensial untuk mengetahui apakah suatu penelitian menggunakan statistik parametris atau statistik non parametris.[35] Dalam uji linieritas data ini melalui langkah-langkah : 1) Membuat tabel kerja 2) Mencari nilai koefisien korelasi product moment 3) Mencari nilai Freg (nilai F garis regresi) dengan rumus :
Keteragngan :  F reg         = Harga F garis regresi
N               = Jumlah kasus
M               = Jumlah predictor
R               = Koefisien korelasi
5)      Uji Linieritas Data
Pada dasarnya uji linieritas ini merupakan pengkajian terhadap rumusan hipotesis rully (Ho) seperti :
Ho = Koefisien arah regresi tidak berarti melawan koefisien regresi
Hi  = Regresi linier melawan regresi tidak linier.
Untuk menemukan apakah masing-masing variabel bebas sebagai predictor mempunyai hubungan linieritas atau tidak dengan variabel terikat, uji Chi sebagai syarat untuk menentukan model analisis regresi linier pada taraf signifikan 5 % dengan db = 1 lawan N-K-1 dengan   rumus :
5.      Metode Analisis Data
a)      Analisis Pendahuluan
Analisis pendahuluan merupakan langkah awal yang dicantunkan dalam penelitian dengan cara memasukkan hasil pengolahan data angket responden ke dalam data tabel distribusi frekuensi. [36]
Di dalam analisis penelitian ini merupakan tahap pengelompokan hasil penelitian mengenai implementasi teori treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas pengaruhnya terhadap minat belajar siswa MTs Khoiriyah Bae Kudus. Untuk menganalisis data peelitian ini, digunakan teknik analisis statistik yang menghitung nilai kualitas dan kuantitas dengan cara memberikan penilaian berdasarkan atas jawaban angket yang telah di dasarkan kepada responden, dimana masing-masing item diberikan alternatif jawaban, dan diberi skor sebagai berikut :
Jawaban a diberi skor 4
Jawaban b diberi skor 3
Jawaban c diberi skor 2
Jawaban d diberi skor 1
Hasil dan tahap ini dimasukkan dalam distribusi untuk memperoleh gambaran yang dikaji.
b)      Analisis Uji Hipotesis
Analisis ini dilakukan untuk menguji distribusi frekuensi yang telah disusun dalam analisis pendahuluan, yaitu menggunakan rumus sebagai berikut :
Y1 = a + bx
Keterangan :
y1      =  Subyek dalam variabel dependen
a       =  Harga y bila y = 0 ( harga konstan )
b       = Harga arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun pada variabel independen. Bila ( + ) maka naik, bila ( - ) maka terjadi penurunan
x       =   Subyek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu.
Kemudian ada tidaknya pengaruh dapat diteruskan dengan menggunakan rumus :
Keterangan :
rxy              = Koefisien korelasi Product Moment antara variabel x dan y
x                = Variabel
y                = Variabel
N               = Jumlah sampel ( objek yang diteliti )
Σ                = Sigma ( jumlah ). [37]
c)      Analisis Lanjut
Analisis lanjut ini merupakan data lebih lanjut dari hasil – hasil nilai kualitatif analisis sebelumnya, yakni membandingkan besarnya “ r “ Observasi (r0) dengan “ r “ tabel (r tabel) dengan taraf signifikan 1 % dan 5 % jika “ r0 “ sama dengan atau lebih besar dari “ r tabel “ maka hasilnya signifikan yakni hipotesis alternatif (H0) dapat diterima kebenarannya. Dan apabila hasilnya lebih kecil maka hipotesis di tolak, sehingga interpretasinya adalah ada pengaruh yang sedang / cukup signifikan         di MTs NU Khoiriyah Bae Kudus.

H.    Sistematika Penulisan Skripsi

Untuk memperoleh gambaran yang jelas dan mudah dalam membaca skripsi ini, maka sistematika penulisan hasil penelitian dalam skripsi ini disusun sebagai berikut :
1.      Bagian muka, terdiri dari :
Halaman judul, halaman nota pembimbing, halaman nota pengesahan skripsi, halaman motto, halaman persembahan, halaman kata pengantar dan daftar isi.
2.      Bagian isi, terdiri dari :
Pada bagian ini terdiri dari ;
BAB I    : Bab ini berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, penegasan istilah judul, rumusan masalah, rumusan hipotesis, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan skripsi.
BAB II   : Teori Treffinger dan minat belajar
Dalam bab ini diuraikan tentang :
a.       Pembahasan tentang teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif yang meliputi : pengertian teori belajar kreatif Treffinger, bentuk-bentuk model teori Treffinger, manfaat penggunaan teori Treffinger dalam proses pembelajaran           di kelas.
b.      Minat balajar siswa, yang meliputi pengertian minat, faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar, usaha-usaha yang dilakukan guru untuk membangkitkan minat belajar dalam proses pembelajaran
c.       Pengaruh implementasi teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam mengembangkan minat belajar siswa
BAB III          :   Pengujian data lapangan
Bab ini membahas tetang gambaran umum, tinjauan historis letak geografis MTs NU Khoiriyah, sarana dan prasarana, personalia organisasi sekolah, keadan guru dan karyawan.

BAB IV :  Analisa
Dalam bab ini membahas tentang analisis pengaruh implementasi teori Treffinger tentang pengembangan belajar kreatif dalam proses pembelajaran di kelas terhadap minat belajar siswa MTs NU Khoiriyah Bae Kudus, yang meliputi : Analisa pendahuluan, analisa uji hipotesis, dan analisa lanjut.
BAB V   : Bab ini berisi penutup, yang meliputi kesimpulan, saran-saran dan kata penutup.
3.      Bagian Akhir
Bagian akhir, terdiri dari : daftar riwayat pendidikan penulis dan lampiran – lampiran.

DAFTAR PUSTAKA 

Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1989
Al Qur’an Terjemahan, Departemen Agama RI, Jakarta Pelita III, 1982-1983. 
Cesar M Mercado, Langkah-Langkah Penelitian Ilmu Sosial, Institut Komunikasi Masa Universitas Philipina
Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Balai Pustaka, Jakarta, 1991
Dr. Anna Craft, Me-Refresh Imajinasi Kreativitas Anak-Anak, Cerdas Pustaka, Jakarta, 2004.
Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Mayarakat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991
Masrukin, M.Pd, Statistik Inferensial, cet I, 2004, Kudus, Mitra Pres
Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan, CV Remaja Karya, 1987
Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1999.
Raymond J Wlodkowski, Judith, H Jaynes, Hasrat Untuk Belajar, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004
Roychanah, Sri, Diktat Ilmu Jiwa, Kudus, Tanpa Penerbit,1997
S Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jenmars, Bandung, 1986.
S Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Bumi Aksara, Jakarta
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Rineka Cipta
Sumadi Suryabrata, Methodologi Penelitian, Rajawali, UGM
Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1987
W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Hasta Bandung, 1986/
Widodo, Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta, Absolut, 2001




[1] Dr. Anna Craft, Me-Refresh Imajinasi Kreativitas Anak-Anak, Cerdas Pustaka, Jakarta, 2004, hal. 93
[2] Ibid, hal. 185
[3] Prof. Dr. Utami Munandar, Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat, PT Rineka Cipta, Jakarta, 1999, hal. 172
[4]  Ibid, hal. 174
[5] Al Qur’an Terjemahan, Departemen Agama RI, Jakarta Pelita III, 1982-1983, hal. 1097 
                [6] Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi II, Balai Pustaka, Jakarta, 1991, hal, 374
[7] Prof. Dr. Utami Munandar, Op. Cit, hal. 172
                [8] Ibid, hal. 173
                [9] Ibid, hal. 174
                [10] W.J.S. Poerwadarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Hasta Bandung, 1986, hal. 473
                [11] S Nasution, Didaktik Asas-Asas Mengajar, Jenmars, Bandung, 1986, hal. 39
[12] Depdikbud, Op. Cit, hal. 473
[13]  Widodo, Kamus Ilmiah Populer, Yogyakarta, Absolut, 2001
                [14]  Roychanah, Sri, Diktat Ilmu Jiwa, Kudus, Tanpa Penerbit,1997
                [15]  Depdikbud, Op. Cit, hal. 747
                [16]  Ahmad Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1989, hal. 88
                [17]  W.J.S. Poerwadarminta, Op. Cit, hal. 955
[18] Cesar M Mercado, Langkah-Langkah Penelitian Ilmu Sosial, Institut Komunikasi Masa Universitas Philipina, hal, 17
[19] Sumadi Suryabrata, Methodologi Penelitian, Rajawali, UGM, hal. 69
[20] S Nasution, Metode Research (Penelitian Ilmiah), Bumi Aksara, Jakarta, hal. 40
[21] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Rineka Cipta, hal. 62
[22] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal. 115
[23] Sutrisno Hadi, Metodologi Research, Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta, 1987, hal. 170
[24] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal. 120
[25] Ibid, hal. 107
                [26] Prof. Dr. Utami Munandar, Op. Cit, hal. 172
                [27] Raymond J Wlod Kowski, Judith. H. Jaynes, Hasrat Untuk Belajar, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2004 
[28] Koentjaraningrat, Metode-Metode Penelitian Mayarakat, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1991, hal. 129
[29] Sutrisno Hadi, Op. Cit, hal. 136
[30] Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan, CV Remaja Karya, 1987, hal, 93
[31] Suharsimi Arikunto, Op. Cit, hal. 236
[32] Koentjaraningrat, Op. Cit, hal. 32-33
[33] Masrukin, M.Pd, Statistik Inferensial, cet I, 2004, Kudus, Mitra Pres, hal. 32
[34]  Ibid, hal. 32
[35] Ibid, hal. 69
[36] Sutrisno Hadi, Statistik, YP Psikologi UGM, Yogyakarta, 1987, hal. 206
                [37] Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, Rineka Cipta, Jakarta, 1998, hal. 256 

Pengaruh Keluarga Tingkat Ekonomi Rendah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2004/2005

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Pendidikan agama merupakan sarana atau wadah yang penting menuju terbinanya manusia yang Islami dan beriman, berakhlak mulia sehingga nantinya generasi muda akan mampu melanjutkan pembangunan bangsa dan berbudi pekerti yang luhur.
Pada dasarnya pendidikan adalah investasi yang akan memberikan hasil sepanjang hidup manusia.[1] Pendidikan merupakan karya manusia yang cukup komplek. Pendidikan berdimensi banyak, yang dimulai dari individu atau si terdidik, masyarakat, termasuk keluarga dan negara.[2] Dimana kesemuanya itu berkepentingan dan mempunyai saham dalam penentuan dan pengembangan dari dimensi-dimensi tertentu tentang pendidikan.
 Dalam hal ini Pendidikan Agama Islam bertugas sebagai upaya membimbing, mengarahkan dan membina anak didik yang dilakukan secara terencana agar terbina suatu kepribadian yang utama, berakhlakul karimah, serta sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam.[3] Oleh sebab itu, Pendidikan Agama Islam sangat berpengaruh pada perkembangan anak didik.
 “Kedudukan strategi usaha-usaha pembangunan di bidang agama sedikitnya dapat ditinjau dari dua segi: Pertama, dari kedudukannya sebagai bagian tak terpisahkan dari pendidikan nasional. Kedua, dari segi kedudukannya sebagai bagian penting dari sektor agama yang merupakan bagian integral dari pembangunan nasional secara keseluruhan.”[4]    

Keluarga mempunyai peranan yang sangat penting sekali dalam pendidikan akhlak untuk anak-anak sebagai instuisi yang mula-mula sekali berinteraksi dengannya, oleh sebab itu mereka mendapat pengaruh daripadanya atas segala tingkah lakunya. Maka dari itu keluarga sangat dibutuhkan peranannya dalam wujud keberhasilan Pendidikan Agama Islam bagi individu siswa itu sendiri. 
Berangkat dari pendapat diatas, penulis mencoba membahas tentang Pendidikan Agama Islam dalam keluarga. Hal ini sesuai dengan pendapat Prof. DR. Zakiah Daradjat, yaitu:
“Orang tua adalah pembina pribadi yang utama dalam hidup anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung, yang dengan sendirinya akan masuk dalam pribadi anak yang sedang bertumbuh.”[5]Jadi disini, pengaruh orang tua maupun keluarga sangat besar pada setiap perkembangan anak, bahkan terhadap keyakinan agamanya, karena keluarga adalah institusi pendidikan utama untuk membentuk generasi dan membangun pemuda. Keluarga adalah lingkungan pertama dimana manusia hidup dan mendapatkan bimbingan.[6] Dengan demikian manusia muslim yang telah mendapatkan Pendidikan Islam itu harus mampu hidup didalam kedamaian dan kesejahteraan sebagaimana yang diaharapkan cita-cita Islam.[7]      

Berangkat dari pemikiran dan fenomena di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai “Pengaruh Keluarga Tingkat Ekonomi Rendah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati Tahun Pelajaran 2004/2005”.
B.     Ruang Lingkup/Identifikasi Masalah
Mengingat terbatasnya ruang dan waktu baik yang ada pada narasumber maupun penulis serta keterbatasan kemampuan penulis pula, maka perlu adanya identifikasi masalah dalam penelitian ini,yaitu:
1.      Untuk variabel bebas, (Keluarga Tingkat Ekonomi Rendah) dengan beberapa indikator yaitu:  jenis pekerjaan, pendapatan dan penghasilan keluarga, kegiatan yang dilakukan keluarga untuk menunjang bidang studi Pendidikan Agama Islam.
2.      Untuk variabel terikat, (Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam Tahun Pelajaran 2004/2005) dengan beberapa indikator yaitu: Prestasi belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, kegiatan yang berkenaan dengan Bidang Studi Pendidikan Agama Islam, Sistem dan Metode Pendidikan Agama Islam.  

C.    Penegasan Istilah

Untuk menghindari salah pengertian dan penafsiran dalam penggunaan istilah, maka perlu penegasan istilah yang digunakan dalam judul skripsi ini, penegasan istilah ini dimaksudkan pula untuk membatasi ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas. Adapun istilah-istilah yang dimaksudkan adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh mempunyai arti daya yang ada atau timbul dari sesuatu, orang, benda, dan sebagainya.[8]
2. Keluarga berarti suatu lembaga kehidupan asasi dan alamiyah yang secara pasti alamiyah dalam suatu kehidupan manusia.[9]
3. Tingkat dalam bahasa Inggris adalah “layer” yang berarti lapis atau jenjang.[10]
4. Ekonomi dalam bahasa Arab dinamakan Mu’amalah Maddiyah yaitu aturan-aturan tentang pergaulan dan perhubungan manusia mengenai kebutuhan hidupnya, lebih tepat lagi disebut iqtishad yang berarti mengatur soal-soal penghidupan manusia dengan sehemat-hematnya dan secermat-cermatnya.[11]
5. Rendah mengandung pengertian tingkatan yang paling bawah.          
6. Pendidikan Agama Islam berarti usaha-usaha secara sistematis dan pragmatis dalam membentuk anak didik agar mereka hidup sesuai dengan ajaran Islam.[12]
7. Prestasi Belajar mengandung pengertian hasil yang telah dicapai setelah melalui evaluasi yang diadakan setelah mendapat materi pelajaran.  
8. SMP Negeri 01 Kayen, dalam hal ini adalah yang menjadi obyek penelitian dalam skripsi ini.
D. Rumusan Masalah
Berawal dari latar belakang masalah dan identifikasi masalah sebagaimana penulis uraikan diatas, maka terdapat permasalahan sebagai berikut:
1.      Bagaimana keadaan siswa dari keluarga tingkat ekonomi rendah di SMP Negeri 01  Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati?
2.      Bagaimana prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati?
3.      Sejauh mana pengaruh keluarga tingkat ekonomi rendah terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati?

E. Tujuan Penelitian

Adapun penelitian ini terdapat tujuan yang hendak dicapai yaitu:
1.      Untuk mengetahui keadaan siswa dari keluarga tingkat ekonomi rendah di SMP Negeri 01  Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.
2.      Untuk mengetahui prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01  Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.
3.      Untuk mengetahui pengaruh keluarga tingkat ekonomi rendah terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01  Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati
F.     Hipotesis
Hipotesis yang akan dikemukakan di sini adalah sebagai berikut:
1.      Ada korelasi yang signifikansi antara keluarga tingkat ekonomi rendah terhadap prestasi belajar  bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.
2.      Tidak ada korelasi yang signifikansi antara keluarga tingkat ekonomi rendah terhadap prestasi belajar  bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati.
G.    Metode Penelitian
Untuk mendapat data yang valid dan dapat dipercaya sekaligus dapat dipertanggungjawabkan dalam menyusun skripsi ini, penulis menggunakan beberapa metode yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu:
1.        Populasi penelitian dan Sampel
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian, sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.[13]
Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah semua siswa SMP Negeri 01 Kayen yang notabene berasal dari keluarga tingkat ekonomi rendah, disini penulis mengambil data dari siswa/siswi yang mendapat dana BKM (Bantuan Kesejahteraan Murid), adapun seluruh populasinya 211 siswa. Untuk mengatasi jumlah yang begitu besar, maka penulis hanya akan mengambil sebagian saja tanpa mengurangi arti dari keseluruhannya. Dalam hal ini, penulis menggunakan tehnik sampling mengenai pengambilan sampel, Suharsimi Arikunto memberi gambaran sebagai berikut:
“Apabila subyeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 10-15 % atau 20-25 % atau lebih.”[14]
Oleh karena itu penulis mengambil sampel 20 % dari jumlah populasi, yaitu 50 siswa.   
Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tehnik random sampling yaitu pengambilan sampling secara random atau tanpa pandang bulu.[15] Dimana individu-individu dalam populasi diberi kesempatan yang sama yang ditugaskan menjadi anggota sampel.
2.        Metode Pengumpulan Data
Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan dua sumber yaitu:
a.       Library Research
Yaitu mendapatkan data dengan jalan membaca buku-buku yang ada relevansinya dengan permasalahan yang dibahas. Penelitian ini menurut Suharsimi Arikunto akan menghasilkan suatu kesimpulan tentang gaya bahasa buku, illustrasi dan sebagainya.[16]
Metode ini digunakan untuk memperoleh data yang bersifat teoritis dari beberapa teori atau landasan-landasan yang dipergunakan untuk pegangan dalam penyusunan landasan teori.  
b.      Field Research
Yaitu pengumpulan data dalam research yang dilakukan di kancah atau medan terjadinya gejala-gejala.[17]
Untuk mendapatkan data tersebut penulis menggunakan metode sebagai berikut:  
1.      Metode Observasi
Tehnik observasi merupakan tehnik penelitian terhadap suatu masalah dengan menggunakan alat panca indera mengenai gejala pada penelitian. Seperti dijelaskan oleh Prof. DR. Winarno Surahmad:
“Bahwa observasi memungkinkan penyelidik mengamati dari dekat gejala penyelidikan, dalam hal ini penyelidik mengambil jarak sebagai pengamat semata-mata atau dapat pula melibatkan diri di dalam situasi yang diselidiki”.[18]
Adapun alasan menggunakan observasi ini adalah agar penulis secara langsung dapat mengetahui tentang gejala atau peristiwa yang diamati yaitu pengaruh keluarga tingkat ekonomi rendah terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. 
2.      Metode Angket/Quesioner
Metode angket atau kuesioner adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau hal-hal yang ia ketahui.[19]
Bentuk angket yang digunakan adalah tipe pilihan atau sering dikatakan dengan angket tertutup, artinya bila item pertanyaan pada angket itu juga disertai kemungkinan juga jawabannya, sehingga responden tinggal memilih jawaban-jawaban yang dinilai paling sesuai.[20]
Angket ini penulis pergunakan untuk memperoleh data atau informasi tentang pengaruh keluarga tingkat ekonomi rendah terhadap prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati. 
3.      Metode Interview
Metode interview adalah mendapatkan informasi dengan cara bertanya langsung kepada responden.[21]
Dalam interview ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang konkrit, tentang sesuatu yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.
4.      Metode Dokumentasi
Metode dokumentasi adalah menyelidiki benda-benda tertulis, seperti buku-buku, majalah, dokumen peraturan-peraturan, notuluen, rapat catatan harian dan sebagainya.
Metode ini merupakan laporan tertulis dari suatu peristiwa, yang seisinya terdiri dari penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu dan ditulis dengan sengaja untuk menyimpan atau menerangkan keterangan mengenai peristiwa-peristiwa tersebut.[22]
H.    Analisis Data
Analisis data adalah usaha yang kongkrit untuk membuat data itu berbicara, sebab betapapun besarnya jumlah dan tingginya nilai data yang terkumpul apabila tidak disusun dalam suatu organisasi dan diolah menurut sistematika yang baik, niscaya data itu tetap merupakan bahan-bahan yang membisu seribu bahasa.[23]
Setelah data terkumpul, maka diadakan pengolahan data dengan tahapan analisis sebagai berikut:
1.      Analisis Pendahuluan
Dalam analisa ini digunakan beberapa langkah dengan metode sebagai berikut:
a.       Metode Editing, yaitu meneliti kembali catatan para pencari data untuk mengetahui apakah catatannya itu cukup baik dan segera disiapkan untuk proses berikutnya.[24]
b.      Metode Conding, yaitu untuk mengklasifikasikan jawaban para responden menurut macam-macamnya.[25]
c.       Metode Tabulating, yaitu tabulasi dalam arti menyusun data ke dalam tabel-tabel.[26] Pada langkah ini digunakan untuk menyusun tabel distribusi frekwensi sesuai dengan variabel yang ada.
2.      Analisa Uji Hipotesa
Dalam analisis uji hipotesis, digunakan untuk menguji hipotesis yang diajukan dengan menggunakan analisa statistik. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut regresi :
            Y1 = a + bx          
                   








Keterangan:
Y: Subyek dalam variabel dependen yang diprediksikan
a    : Harga Y bila X = 0 (harga konstanta)
b : Angka arah atau koefisien regresi, yang menunjukkan angka peningkatan ataupun penurunan variabel dependen yang didasarkan pada variabel independen. Bila b (+) maka naik dan bila (-) maka terjadi penurunan.
X  : Subyek pada variabel independen yang mempunyai nilai tertentu.
r   : Koefisien korelasi product mment antara variabel X dengan variabel Y
Sx : Simpangan baku variabel Y
Sy : Simpangan baku variabel X
Kemudian untuk mengetahui korelasi antara keluarga tingkat ekonomi rendah dengan prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam, maka analisis dilanjutkan dengan rumus product moment sebagai berikut:  
  

Keterangan:
r xy      : koefisien korelasi antara x and y
xy        : koefisien antara variabel x dan y
x          : variabel keluarga tingkat ekonomi rendah
y          : variabel prestasi belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam
N         : jumlah yang dijadikan sampel  
3.      Analisa Lanjut
Setelah diperoleh hasil koefisien antara x dan y, maka langkah berikutnya adalah menghubungkan nilai r ( hasil koefisien korelasi variabel x dan y ), dengan nilai r (pada tabel, baik dalam taraf signifikansi 5 % maupun 1 % ).
Apabila hasil koefisien korelasi tersebut diperoleh sama atau lebih besar dari nilai r yang terdapat dalam tabel, maka hasilnya adalah signifikan, yang artinya ada hubungan yang positif antara variabel x dan y berarti hipotesis yang penulis ajukan dapat diterima.
I.       Sistematika Skripsi
Untuk memudahkan dalam mempelajari dan memahami skripsi ini, akan dibagi menjadi tiga bagian yang masing-masing terdiri dari beberapa bab, yaitu:
Bagian muka terdiri atas: halaman judul, nota pembimbing, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi dan daftar tabel.
Bagian isi skripsi yang dalam hal ini terbagi atas bebarapa bab, yaitu:
BAB. I :Pendahuluan, yang terdiri Latar Belakang, Ruang  Lingkup/Identifikasi Masalah, Penegasan judul, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Hipotesis, Metode Penelitian, Analisis Data, Sistematika Skripsi.
BAB. II       : Landasan Teori yang terdiri dari dua sub bab yaitu: sub bab pertama Keluarga tingkat Ekonomi Rendah, yang terbagi atas Pengertian Keluarga Tingkat Ekonomi Rendah, Sumber-sumber Pendapatan Keluarga, Masalah dan Hambatan. Sub bab kedua adalah Pendidikan Agama Islam di sekolah yang terbagi atas Pengertian Pendidikan Agama Islam, Fungsi dan Tujuan Pendidikan Agama Islam, Peranan Pendidikan Agama Islam, Pengaruh Pendapatan Rendah Keluarga Terhadap Prestasi Belajar Bidang Studi Pendidikan Agama Islam.         
BAB. III       : Sistem Pembelajaran dan Pengajaran Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kebupaten Pati yang terdiri dari dua sub bab yaitu sub bab pertama Keadaan Umum yang terdiri dari Tinjauan Historis, Letak Geografis, Struktur Kepengurusan. Sub bab kedua adalah Pelaksanaan Pengajaran Pendidikan Agama Islam terdiri dari Kurikulum SMP Negeri 01 Kayen Kecanatan Kayen Kabupaten Pati, Sistem dan Metode Pengajaran Pendidikan Agama Islam, Sistem Evaluasi Bidang Studi Pendidikan Agama Islam.
BAB. IV       :  Analisa Data Penelitian yang terdiri dari dua sub bab yaitu sub bab pertama adalah Data Tentang Keluarga Tingkat Ekonomi Rendah di SMP Negeri 01 Kayen Kecamatan Kayen Kabupaten Pati, Data Tentang Prestasi Belajar bidang studi Pendidikan Agama Islam. Sub bab kedua adalah Analisa Data Penelitian.
 BAB. V       :  Kesimpulan, saran, dan penutup.
Dan pada bagian akhir skripsi ini terdapat daftar pustaka, daftar  lampiran dan riwayat hidup pendidikan penulis. 


Daftar Pustaka
Imam Barnadib, Pendidikan Perbandingan, Jilid II, Andi Offset, Yogyakarta, 1987.
Alamsyah Ratu Perwiranegara, Pembinaan Pendidikan Agama, Depag RI, Jakarta, 1984.
Muhamad Zuhaili, Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini, AH. Ba’adillah Press, Jakarta, 2002.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, 1991.
Cholid, Metodologi Penelitian Sosial, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang, 1988. 
Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah (Dasar-dasar dan Tehnik), Tarsito, Bandung, 1982.
Sanafiah Feisal, Dasar dan Tehnik Menyusun Angket, Usaha Nasional, Surabaya, 1981.
Masri Sangarimbun, Sofyan Efendi, Metode Penelitian Survei, LP3ES, Jakarta, 1986.
Soetrisno Hadi, Meteodologi Research I, Andi Off Set, Yogyakarta, 1989.
Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970.
M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2000.   
Avril, Maaf (Biaya) Pendidikan Memang Mahal, Tabloid Mahasiswa Nuansa, BP2M, UNNES, Edisi. 110/XV/2004.  
Joko el-Qudsy, Krisis Pendidikan Islam (Antara Tantangan dan Peluang), Paradigma, LPM Paradigma, STAIN Kudus, Edisi. 3/Tahun III/Maret 2002.
M. Subana dkk, Statistik Pendidikan, CV. Pustaka Setia, Bandung 2000.
Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Pustaka Amami, Jakarta. 
John, M Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta, 1976.
Abdullah Zaky al Kaaf, Ekonomi Dalam Perspektif Islam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2002. 
M. Noorsyam, dkk, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1980. 
Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, 1983. 




[1]Avril, Maaf (Biaya) Pendidikan Memang Mahal, Tabloid Mahasiswa Nuansa, BP2M, UNNES, Edisi. 110/XV/2004, hal. 5.  
[2]Imam Barnadib, Pendidikan Perbandingan, Jilid II, Andi Offset, Yogyakarta, 1987, hal. 9.
[3]Joko el-Qudsy, Krisis Pendidikan Islam (Antara Tantangan dan Peluang), Paradigma, LPM Paradigma, STAIN Kudus, Edisi. 3/Tahun III/Maret 2002, hal. 25.
[4]Alamsyah Ratu Perwiranegara, Pembinaan Pendidikan Agama, Depag RI, Jakarta, 1984, hal. 25.
[5]Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, hal. 56.
[6]Muhamad Zuhaili, Pentingnya Pendidikan Islam Sejak Dini, AH. Ba’adillah Press, Jakarta, 2002, hal. 167.
[7]M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, PT. Bumi Aksara, Jakarta, 2000, hal. 10.   
[8]Muhammad Ali, Kamus Lengkap Bahasa Indonesia, Pustaka Amami, Jakarta, hal. 301. 
[9]M. Noorsyam, dkk, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan, Usaha Nasional, Surabaya, 1980, hal. 12. 
[10]John, M Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, PT. Gramedia, Jakarta, 1976, hal. 350.
[11]Abdullah Zaky al Kaaf, Ekonomi Dalam Perspektif Islam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 2002, hal. 19. 
[12]Zuhairini, dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Usaha Nasional, Surabaya, 1983, hal. 27. 
[13]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktik, Rineka Cipta, Jakarta, 1991, hal. 103-104.
[14]Ibid, hal. 107.
[15]Cholid, Metodologi Penelitian Sosial, Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang, 1988, hal. 146. 
[16]Suharsimi Arikunto, Op Cit, hal. 10.  
[17]Soetrisno Hadi, Meteodologi Research I, andi Off Set, Yogyakarta, 1989, hal. 10.    
[18]Winarno Surahmad, Pengantar Penelitian Ilmiah (Dasar-dasar dan Tehnik), Tarsito, Bandung, 1982, hal.165.
[19]Suharsimi Arikunto, Op Cit, hal. 124.
[20]Sanafiah Feisal, Dasar dan Tehnik Menyusun Angket, Usaha Nasional, Surabaya, 1981, hal. 4.
[21]Masri Sangarimbun, Sofyan Efendi, Metode Penelitian Survei, LP3ES, Jakarta, 1986, hal. 146.
[22]Winarno Surahmad, Op Cit, hal. 134. 
[23]Ibid, hal. 109-110.
[24]Koentjoroningrat, Metode-metode Penelitian Masyarakat, Jakarta, 1981, hal. 270.
[25]Ibid, hal. 280.
[26]Ibid, hal. 280. 

INSTRUMEN, VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN PENELITIAN


Instrumen adalah suatu alat yang memenuhi persyaratan akademis sehingga dapat digunakan sebagai alat untuk mengukur suatu obyek ukur atau mengumpulkan data mengenai suatu variabel penelitian. Instrumen Penelitian adalah suatu alat yang digunakan untuk mengukur fenomena alam maupun sosial yang diamati.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur fenomena alam misalnya : Suhu diukur dengan termometer; panjang diukur dengan meteran, berat diukur dengan kilogram, dan sebagainya. Instrumen-instrumen tersebut mudah didapat dan telah teruji validitas dan reliabilitasnya.
Instrumen yang digunakan untuk mengukur fenomena sosial umumnya dan bidang ekonomi dan bisnis khususnya yang sudah baku sulit ditemukan. Untuk itu peneliti harus mampu membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian. Misalnya bentuk instrumen : 1) Checklist; 2) Pilihan Ganda; 3) Rating Scale; dan sebagainya
Bentuk instrumen yang dipilih antara lain tergantung pada metode pengumpulan data yang akan digunakan seperti : angket (kuesioner), observasi dan wawancara (interview).

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Instrumen yang valid berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur) itu valid. Valid berarti instrumen tersebut dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur.

Jenis Validitas:
1.      Validitas Isi (Content Validity) : instrumen yang berbentuk test yang sering digunakan untuk mengukur prestasi belajar (achievement) dan mengukur efektivitas pelaksanaan program dan tujuan.
2.      Validitas Konstruk (Construct Validity) : Jika instrumen dapat digunakan untuk mengukur gejala sesuai dengan yang didefinisikan sesuai dengan teori-teori yang relevan.
3.      Validitas yang berkaitan dengan kriteria (Criterion-related Validity) : Terjadi ketika sebuah instrumen membedakan individual pada kriteria yang akan diperkirakan.

Reliabilitas : menunjukkan konsistensi dan stabilitas dari suatu skor (skala pengukuran). Realibilitas berbeda dengan Validitas, karena Reliabilitas memusatkan perhatian pada masalah konsistensi sedangkan Validitas lebih memperhatikan ketepatan.

Stabilitas Ukuran : menunjukkan kemampuan sebuah ukuran (instrumen) untuk tetap stabil.
Reliabilitas Instrumen dapat diuji dengan : 1) Test-retest Reliability; 2) Equivalent / Paralel-form Reliability; 3) Internal Consistency Reliability.
1.      Test-retest Reliability : dengan cara mencobakan instrumen beberapa kali pada responden.
2.      Equivalent/Paralel-form Reliability : adalah pertanyaan dalam bentuk kalimat yang berbeda tapi maksudnya sama.
3.      Internal Consistency Reliability : diuji dengan menganalisis yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.
Penyusunan quesioner
Kuesioner (Questionnaire) : merupakan alat/teknik untuk pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya.
Manfaat/Kegunaan Kuesioner : 1) membantu petugas lapangan (interviewer) dalam pengumpulan data tentang hal-hal yang perlu ditanyakan kepada responden; 2) petugas lapangan bisa secara sistematis dan berurutan dalam mengajukan pertanyaan; 3) pertanyaan yang diajukan kepada responden oleh masing-masing petugas lapangan dapat diseragamkan, sehingga data yang diperoleh bisa diperbandingkan satu sama lainnya.
Prinsip Penyusunan Kuesioner : 1) Prinsip Penulisan Kuesioner; 2) Prinsip Pengukuran; 3) Prinsip Penampilan Fisik.
1.      Prinsip Penulisan Kuesioner. : a) Isi dan tujuan pertanyaan harus relevan; b) Bahasa yang digunakan mudah dipahami; c) Tipe / bentuk pertanyaan : terbuka/tertutup , positif/negatif; d) Pertanyaan tidak boleh mendua (double barreled questions); e) Pertanyaan tidak menggiring responden; f) Tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa; g) Pertanyaan tidak panjang dan berbelit; h) Urutan pertanyaan dari hal yang umum menuju hal yang spesifik atau dari hal yang mudah menuju hal yang sulit; i) Gunakan teknik skala yang relevan, seperti : rating scale (graphic rating scales, itemized rating scale, comparative rating scale); attitude scale (linkert scale, semantic differential).
2.      Prinsip Pengukuran : sebagai instrumen penelitian, maka sebelum kuesioner diberikan kepada responden harus diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dulu.
3.      Prinsip Penampilan Fisik : kuesioner perlu dirancang dan didesain lebih menarik agar responden senang dan serius dalam menjawab/mengisinya.

Jalaluddin Rakhmat, 1995, Metode Penelitian Komunikasi, Bandung: P.T. Remaja Rosdakarya.
Arthur Asa Berger, 2000, Media and Communication Research Methods, Thousand Oaks, London, New Delhi: Sage Publications, Inc.
Bridget Somekh and Cathy Lewin, 2005, Research Methods in The Social Sciences, London, Thousand Oaks, New Delhi: Sage Publications, Inc.
Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989, Metode Penelitian Survai, Jakarta: LP3ES.
Nazir, M. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia
Bambang Prasetyo dan Lina Miftahul Jannah, 2005, Metode Penelitian Kuantitatif: Teori dan Aplikasi, Jakarta: P.T. Radjagrafindo Persada.
·Rachmat Kriyantono, 2006, Teknik Praktis Riset Komunikasi, Jakarta: Kencana Prenada Media Group.